Hidup adalah Rangkaian Ujian dan Pencobaan



Pencobaan-pencobaanku telah menjadi guruku dalam soal Ketuhanan. -Martin Luther

Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam Alkitab. Banyak tokoh Alkitab yang diuji imannya oleh Allah melalui berbagai hal, misalnya, Abraham yang diuji lewat perintah menyembelih anak kandungnya, Yakub yang diuji dengan mendapat tambahan waktu untuk memperistri Rahel, Adam dan Hawa diuji di Taman Eden, serta tokoh-tokoh lainnya seperti Raja Hizkia, Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Allah menguji kita dengan tujuan mengembangkan karakter kita

Setiap kali kita diuji, Allah selalu memperhatikan kita, Ia selalu mengamati bagaimana respon kita terhadap masalah hidup kita, orang-orang disekeliling kita, penyakit kita, dan bahkan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh seperti reaksi kita terhadap kamar yang dibuat berantakan oleh si kecil, alat-alat make up yang di gunakan sebagai mainan mereka, dan dokumen-dokumen penting yang dicoret-coret oleh mereka. Ujian-ujian ini bertujuan untuk melatih kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetian, kelemahlembutan, dan penguasaan diri dari kita.

Saat Anda diuji, Anda diperhadapkan dengan dua pilihan yaitu berbuat baik atau berbuat dosa. Ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, anaknya, ia bisa saja mengingkari perintah itu dengan alasan kemanusiaan, tetapi ia memilih untuk menjadi hamba yang penurut tanpa banyak tanya dan banyak komentar. Setiap kali kita mangkir dari kesempatan berbuat dosa, kita sedang bertumbuh mendekati karakter Kristus.

Pencobaan adalah kartu AS Iblis

Pencobaan adalah senjata utama Iblis untuk menjatuhkan orang percaya. Disekeliling kita pasti banyak sekali ditemui orang-orang percaya yang menyimpang dari perintah Tuhan setelah mengalami pencobaan-pencobaan dalam hidup mereka (Tuhan mengharapkan Anda untuk membawa mereka kembali). Tetapi tenang saja, Allah juga memanfaatkan pencobaan tersebut untuk mengembangkan Anda. Ayub dicobai oleh iblis agar ia mengkhianati Tuhan Allah, namun Allah memanfaatkan pencobaan tersebut untuk menguji kesalehan dari seorang Ayub.

Pencobaan kita berawal dari hati. Saat iblis mengenali keinginan Anda, ia akan memberikan suatu pemikiran untuk mendapatkan keiinginan tersebut dengan cara yang salah. Usulan iblis terdengar sangat menarik dan logis sehingga banyak orang yang terbuai. Ketika Anda sudah mulai mempertimbangkan usulan iblis, iblis kemudian akan menimbulkan keraguan dalam hati Anda mengenai isi kata firman Tuhan, Anda mungkin akan berkata "Ah, mungkin sah-sah saja karena Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci," atau "Bukankah Allah ingin agar saya bahagia." Waspadalah! Jangan biarkan keraguan membuatmu berpaling dari Tuhan Yesus.

Iblis disebut sebagai "bapa segala dusta." Segala sesuatu yang dikatakan olehnya tidak benar atau hanya separuh benar. Iblis menawarkan dustanya untuk menggantikan firman Tuhan. Ia berkata kepada Hawa "Kamu sekali-kali tidak akan mati ...," padahal Allah telah mengatakan bahwa mereka akan mati apabila memakan buah penetahuan yang baik dan yang jahat. Ketika kita telah termakan bujuk rayu iblis, akhirnya kita akan menjadi tidak taat lagi kepada Allah dan mendukakan hati-Nya.

Mengalahkan Pencobaan

Alkitab berkata: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa kita diajak untuk senantiasa bertahan dalam pencobaan kita. Allah tidak akan mengizinkan pencobaan kita melebihi kemampuan kita. Saat beban kita sudah terlalu berat untuk kita pikul, Ia akan menguatkan pundak kita agar beban kita terasa ringan.

Berikut adalah cara untuk mengalahkan pencobaan:
1. Mintalah pertolongan Allah. Berserulah kepada Tuhan, Alkitab menjamin seruan kita akan didengar oleh Tuhan Yesus. Ia tidak akan marah atau bosan apabila kita berkali-kali minta tolong kepada-Nya karena kasih Allah abadi, dan kesabaran-Nya kekal selamanya.
2. Mengalihkan pikiran. Setiap kali kita mencoba untuk melawan suatu pikiran, kita justru makin mendorongnya ke ingatan kita. Misalnya, Anda sedang memiliki masalah dengan seorang teman Anda. Anda pernah memergoki dia bercerita buruk tentang Anda. Ketika Anda berusaha untuk lupa bahwa dia sudah bercerita buruk tentang Anda dengan cara melawan pikiran Anda, itu hal yang sia-sia karena Anda justru semakin ingat. Hal yang harus Anda lakukan adalah membiarkan pemikiran tersebut dan mengalihkannya pada sesuatu hal yang lain, mungkin Anda harus lebih fokus dengan pekerjaan Anda, keluarga Anda, target Anda, atau mencari kesibukan-kesibukan yang positif.
3. Ungkapkan pergumulan pada seseorang yang mendukung. Bisa saja pasangan Anda, sahabat, Anda, orang tua Anda, atau siapa pun yang Anda percayai. Tetapi perlu diingat bahwa Anda tidak harus menyiarkannya ke seluruh dunia, cukup satu orang saja yang mengerti pergumulan Anda.

Selalu ada jalan keluar

1 Korintus 10:13b : "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."


Cukup sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

:)

4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Tuhan Terasa Jauh


"Persahabatan seringkali diuji melalui perpisahan dan diam" -Rick Warren 


Sebuah pepatah mengatakan bahwa hidup berjalan seperti roda yang berputar, kita tidak akan terus berada ditempat yang sama selama hidup. Pepatah tersebut berlaku untuk hubungan kita dengan Allah. Kita tidak akan selalu berada di posisi yang sama sepanjang waktu, kadang kita merasa begitu dekat dengan-Nya dan kadang pula terasa jauh.

Ada masa dimana kita telah melakukan segala sesuatu untuk melayani Tuhan, kita merenungkan firman-Nya siang dan malam, kita melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya, tetapi nampaknya tidak berdampak apa-apa bagi kehidupan kita bahkan yang datang justru musibah demi musibah yang membuat kita merasa Allah "tega" membiarkan kita jatuh dalam pencobaan.

Dulu ada seorang ibu yang hidup dikampung pedalaman. Ia melayani Tuhan sebagai majelis dan guru sekolah minggu. Tantangan terberat dalam pelayanan didaerah pedalaman adalah masih sangat kurangnya pelayan dalam suatu gereja. Bahkan, ibu tersebut mengaku ada suatu waktu ia melayani dari pagi hingga jam 5 sore, mulai dari mengajar sekolah minggu, menjadi pelayan firman di ibadah gereja, ibadah kebaktian rumah tangga, kebaktian Persekutuan Wanita, hingga Persekutuan Pemuda/i. Saya pribadi sangat salut dengan pengabdian ibu itu ditambah lagi ia hanya lulusan SD. Meskipun ibu tersebut sudah mengorbankan banyak waktunya untuk Allah, ternyata Allah masih mengizinkan pencobaan yang begitu besar dalam hidupnya, ia pernah keguguran, dua anaknya meninggal, dan anak keduanya sakit-sakitan. Kendati dalam keadaan tidak menyenangkan, ibu tersebut tidak pernah lelah melayani Tuhan sampai pada masa tuanya. 

Betapapun akrabnya kita dengan teman, pasangan, dan orang tua, ada masa-masa kita jauh dalam artian tidak saling berkomunikasi dan seakan mereka mengabaikan kita. Hukum itu juga berlaku untuk hubungan kita dengan Allah. "Saat Jauh" kita dengan Allah adalah ketika penyembahan kita menjadi sulit, perasaan rohani kita lenyap, kita ditimpah berbagai macam pencobaan, dan kita meragukan kebenaran dan janji-janjiNya.

Bisa saja yang membuat Allah terasa jauh adalah dosa kita dan Allah sedang menghukum kita atas dosa tersebut, tetapi bukankah Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang? karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, maka kemungkinan tadi persentasenya tipis. Seringkali kita merasa Allah meninggalkan kita tidak berkaitan dengan dosa. Itu adalah ujian terhadap iman kita. Ketika pasangan kita lagi ngambek, dia pasti (seakan-akan) tidak menghiraukan kita. SMS kita tidak dibalas, WA kita tidak dibalas syukur-syukur kalau di-read, telepon kita tidak diangkat, tetapi pada saat-saat inilah cinta kita padanya diuji. Begitu pun saat Allah mendiamkan kita, sebetulnya kasih, kepercayaan dan ketaatan kita sedang diuji, apakah kita masih menyembah-Nya meskipun Ia terasa jauh.



Lalu, sebagai orang percaya, apa yang harus kita lakukan saat berada di keadaan ini? Berikut 4 hal yang bisa dilakukan dikutip dari buku "The Purpose Driven Life" karya Rick Warren.

1. Katakan kepada Allah secara persis apa yang Anda rasakan

Dengan kata lain kita harus jujur bahwa kita merasa Allah seakan-akan jauh. Keluarkan emosi Anda dihadapan-Nya (bukan dihadapan orang lain atau di sosmed) karena Tuhan sanggup untuk menangani kebimbangan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan, dan keraguan Anda.

2. Yakin bahwa sifat Allah tidak berubah

Mungkin Anda tahu lirik lagu ini:
Tuhan Yesus tidak berubah
tidak berubah, tidak berubah
Tuhan Yesus tidak berubah
sampai selama-lamanya\
Lagu tersebut bisa Anda nyanyikan ketika dalam keadaan seakan-akan didiamkan oleh Allah, tanpa peduli dengan keadaan dan perasaan Anda, yakinlah pada karakter Allah yang tidak berubah. Allah yang telah berfirman "Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (ibrani 13:5), masih adalah Allah yang sama yang akan selalu menyertai kehidupan Anda.

3. Percaya bahwa Allah menepati janji-janji-Nya

Dalam keadaan penuh pergumulan, kita harus bersandar pada janji-janji Allah, bukan pada emosi-emosi kita. Jangan terpengaruh dengan kesulitan Anda, sadarilah bahwa keadaan tidak dapat mengubah karakter Allah. Kasih karunia Allah, cinta Allah, pengampunan Allah, semuanya masih dalam kekuatan penuh. Allah tetap memihak kita, sekalipun kita tidak merasakannya. Kita harus tetap percaya bahwa Allah selalu ada untuk kita, bahwa Allah sangat peduli dengan perasaan-perasaan kita. Ingatlah bahwa Allah ingin menjadikan Anda bejana-Nya!

4. Ingat kembali apa yang telah Allah perbuat

Meskipun kita banyak berbuat baik kepada orang lain, sekali kita melakukan yang tidak baik, mereka akan lupa dengan segala kebaikan kita dan mengingat yang jahatnya saja. Jangan heran, itulah kecenderungan manusia dan Anda sendiripun tanpa sadar pernah melakukannya.

Ketika Allah terasa jauh, ketika masalah kian menumpuk, ingatlah akan kebaikan Tuhan bagi Anda. Andai kata Allah tidak pernah melakukan sesuatu dihidup Anda, Allah masih layak menerima pujian Anda selama sisa hidup Anda. Alasan terbesar kita untuk tetap menyembah-Nya adalah karena Ia telah mati untuk kita.

........... :)

Itulah 4 hal yang harus kita lakukan ketika Tuhan terasa jauh. Jangankan Anda dan saya, nabi-nabi dalam Alkitab pernah merasa bahwa Tuhan seakan-akan jauh. Akan tetapi mereka tetap setia dalam masa-masa tersebut dan pada akhirnya mereka memperoleh buah dari kesetiaan itu.

Demikian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati kehidupan kita semua!

:)

Jangan Terlalu Nyaman, Kita Hanyalah Pelancong di Dunia Ini


Pernahkah Anda merasa tidak puas dengan kehidupan kita dibumi ini? Jika Ya, maka perasaan itu wajar karena tempat kita memang bukan disini.

Saat ini saya sedang berada di sebuah kampung yaitu kecamatan Tanduk kalua di daerah kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kebetulan kampung ini bukan kampung halaman saya, melainkan kampung kakak ipar saya. Tempat tinggal saya sebenarnya adalah di kecamatan Burau, kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Saya datang kesini selain untuk liburan, juga karena ada sedikit urusan study yang mengharuskan saya untuk tinggal disini sementara. 

Berada di tempat yang bukan kampung kita tentu membuat kita sedikit merasa asing (karena kita memang bukan penduduk setempat). Walaupun Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bertetangga, namun kebiasaan masyarakat setempat, aksen, dan juga bahasanya sudah memiliki banyak perbedaan, walaupun tidak dipungkiri masih ada kemiripan karena masih satu pulau. Satu bulan lebih berada di kampung ini, saya mulai bisa beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Saya mulai mengerti bahasa daerah sini dan juga mulai memahami aktivitas serta kebiasaan warganya.

Keberadaan kita dibumi sebagai orang percaya sebenarnya mirip dengan pelancong atau wisatawan yang sedang berjalan-jalan di daerah orang lain. Bedanya, kita tidak hanya berjalan-jalan untuk melihat-lihat saja, melainkan kita mengemban sebuah "penugasan" dari Allah. Seperti saya yang berada di Mamasa ini karena urusan study saya, begitu pun kita umat Allah yang berada di dunia ini untuk urusan surgawi. Ya, "Urusan Surgawi". Wow! Begitu spesialnya kita sehingga diberikan mandat begitu istimewa dari Allah.

Lalu, apa penugasan Allah itu untuk kita?

1. Memelihara Bumi

Beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali bencana yang menimpa manusia. Bencana itu meliputi bencana alam: tsunami, gunung meletus, dan gempa bumi yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, juga bencana yang disebabkan oleh manusia: tanah longsor dan banjir.  

Tanah longsor dan banjir disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, tetapi yang kena dampaknya adalah manusia lain dan hewan. Selain itu, fenomena meningkatnya pemanasan global, kelangkahan beberapa jenis tumbuhan dan hewan, serta penumpukan sampah juga sebagian besar bahkan hampir sepenuhnya karena ulah manusia. Hal tersebut bertentangan dengan perintah Allah yang telah memberikan mandat kepada nenek moyang kita untuk memelihara bumi. Kita telah gagal sebagai keturunan Adam dan Hawa untuk melaksanakan perintah tersebut.

Kalau bukan kita yang memelihara lingkungan kita, siapa lagi? Alien?

Mari kita bersama-sama menjaga bumi ini. Anda tidak harus menjadi ultraman atau superhero, cukuplah dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi menggunakan produk yang menyisakan limbah sulit terurai, menjaga satwa dan fauna kita dari kepunahan, mengurangi bahkan menghentikan menggunakan peralatan/barang/alat transportasi yang tidak ramah lingkungan, melindungi hutan kita, dan sebagainya sesuai dengan kesadaran kita.

2. Melayani Allah

Kapanpun kita melayani orang lain, kita melayani Allah. Dalam melakukan pelayanan terhadap orang lain, Anda harus selalu ingat bahwa Anda melakukannya untuk Allah, ini bisa menguatkan Anda dalam segala situasi seperti para nabi dan rasul dalam kitab suci. Misalnya Anda adalah seorang guru yang diperhadapkan dengan siswa badung. Kalau fokus Anda pada diri sendiri, Anda pasti akan mundur, "Ahh, saya tidak dihargai oleh siswa ini, kenapa saya harus tetap mengajarnya?". Akan tetapi, jika Anda fokus bahwa Anda sedang melayani Allah melalui pekerjaan Anda, Anda pasti akan tetap mengajar dan mengarahkan anak itu agar menjadi anak baik dan lebih dekat dengan Tuhan.


Melayani Allah tak melulu harus jadi pendeta, pastor atau biarawati. Semua orang Kristen dipanggil untuk melayani. Kan tidak mungkin kalau semua orang kristen itu jadi pendeta? lah trus yang jadi jemaat siapa?

Anda bisa melayani Allah dengan talenta dan pekerjaan Anda asalkan tetap melakukannya dengan mata tertuju kepada Yesus.

3. Mengembangkan Diri Kita

Dalam Point ketiga ini berbicara mengenai dua pengembangan diri, yang pertama dari segi iman dan yang kedua ialah bakat.

(1) Iman kita itu ibarat tanaman yang setiap hari harus diberi air kehidupan yaitu  renungan firman agar tetap tumbuh. Kita juga harus merawat tanaman iman kita ini dengan baik, jangan sampai hama-hama keraguan menggerogoti batangnya sehingga akan mati secara perlahan. Tanaman iman kita harus dipupuk secara berkala dan rutin dengan pedalaman-pedalaman Alkitab dan juga pengalaman-pengalaman rohani agar tumbuh subur hingga saatnya nanti hasil tanaman iman kita dapat dipanen dengan penuh sukacita.

(2) Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 membuktikan bahwa Allah ingin kita mengembangkan yang Dia berikan kepada kita, tidak boleh menyembunyikannya. Semua kemampuan dan bakat kita berasal dari Allah. Bahkan kemampuan membuat dan menyebarkan berita hoaks pun merupakan kemampuan dari Allah tapi disalahgunakan.

Salah satu tanggung jawab Anda dalam gereja sebagai satu-kesatuan tubuh Kristus ialah menemukan dan mengembangkan bakat Anda. Masalah yang sering muncul ialah ada sebagian orang yang tidak tahu apa sebenarnya bakat mereka. Saya mempunyai teman sewaktu SMA yang "serba biasa-biasa saja" dalam segala hal. Dari segi akademik dan non akademik disekolah ia tidak menonjol, ia bahkan pernah berpikir bahwa dia tidak memiliki bakat., padahal ia hanya tidak sadar bahwa ia berbakat mengamati perilaku orang yang tidak disadari oleh orang lain, jago melucu dengan lawakan kacang tapi bikin ngakak, dan juga easy going dengan siapa saja. Jika Anda merasa belum menemukan bakat Anda maka teruslah mencoba berbagai hal. Jika Anda sudah menemukannya, kembangkan itu!

................. :)

Itulah tiga penugasan Allah untuk kita yang apabila kita lebih mengkaji kitab suci lagi, kita masih akan menemukan penugasan-penugasan Allah yang lain di dunia ini. 

Saat bertugas didunia, kita sebaiknnya merasa menjadi orang asing. Kebiasaan orang dunia masih berdasarkan keinginan daging mereka, perbuatan dan cara bertutur mereka amoral dan mengingkari larangan Tuhan. Kita harus memiliki keberanian untuk mempertahankan jati diri kita yang sebenarnya, tanpa takut akan ditolak oleh dunia. Biarlah dunia menolak kita asalkan Allah tetap menerima kita.

Dengan menyadari bahwa kita hanya sedang menjalani penugasan dari Allah dan tempat kita bukan disini, maka kita akan menjauhi segala sesuatu yang akan membuat kita gagal untuk menyelesaikan tugas tersebut. Ingat! kita berasal dari Allah dan tidak boleh menjadi serupa dengan Allah.

Mari bersama-sama sebagai pengikut Kristus kita menjalankan tanggung jawab kita agar pada akhirnya Allah akan tersenyum kepada kita.

Saya rasa cukup sekian. Terima kasih telah membaca dan Tuhan Yesus memberkati kita semua.

:)

Bagaimana Cara Agar Kita Istimewa Seperti Nuh?


Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan  (Kejadian 6:8)

Nuh adalah seorang tokoh dalam Alkitab yang patut untuk diteladani. Pada zaman Nuh, manusia di bumi melakukan suatu kejahatan yang sangat besar, mereka hanya melakukan yang menyenangkan hati mereka saja tanpa ada keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan. Allah begitu jijik dan menyesal telah menciptakan manusia, bahkan berencana untuk memunahkan mereka (Kejadian 6: 6-7). Untunglah, ada seorang yang berbeda dari orang-orang sezamannya. Orang itu membuat Allah tersenyum. Alkitab (Kejadian 6:8-FAYH) berkata, tetapi Nuh sangat menyenangkan hati Tuhan.

Allah mengistimewakan Nuh sekeluarga diantara orang-orang lain. Hal ini terbukti saat Allah bersabda bahwa Ia akan memusnahkan seluruh yang bernyawa di kolong langit, tetapi Ia membiarkan Nuh sekeluarga dan beberapa pasang binatang untuk tetap hidup. Mengapa Nuh begitu istimewa? Alkitab menuliskan jawabannya: ia hidup benar, tidak bercelah, dan bergaul dengan Allah.

Saya yakin, ketika Anda membaca tulisan ini berarti Anda ingin juga diistimewakan oleh Allah layaknya Nuh. Agar diistimewakan oleh seseorang, Anda harus menyenangkan hatinya. Begitu pula jika ingin diistimewakan oleh Allah. Inilah kata kuncinya, Menyenangkan Hati Allah.

Di zaman kita sekarang ini, sebenarnya hanya sedikit saja orang yang menyenangkan hati Tuhan. Hal ini disebabkan karena banyak dari kita yang hidup untuk kepuasan diri kita saja. Kita ingin populer, kaya, menikmati hidup dengan menuruti nafsu, begitu mudahnya mencaci maki orang lain daripada memujinya, dan lain sebagainya. Sadarlah, kita sedang mendukakan hati Tuhan.


Bagaimana cara menyenangkan hati Allah?

1. Mencintai Allah lebih dari segalanya

Mengucapkannya memang mudah, tetapi bagi sebagian orang sangat sulit untuk melakukannya. Jika seorang artis papan atas yang kebetulan idola Anda tiba-tiba ingin menikahi Anda dengan memberikan syarat bahwa Anda harus meninggalkan iman Anda kepada Yesus dan mengikut imannya, bisakah Anda menolak? Bisa? Yakin? Kalau dia itu Zayn Malik atau Isyana Saraswati masih sanggup nolak?

Banyak orang yang meninggalkan Tuhan karena alasan cinta kepada lawan jenis, padahal itu adalah salah satu permainan iblis agar Anda mengkhianati Yesus.  Meninggalkan Tuhan karena alasan cinta juga adalah bukti bahwa iman kita masih dangkal, kita jarang menggalinya agar menjadi lebih dalam. Kita lebih sering memikirkan seorang manusia dibanding memikirkan Allah. Selain itu banyak juga orang yang lebih mencintai kepopulerannya dan hartanya dibanding Allah.

Kita mencintai Allah bukan karena kita wajib atau karena perasaan takut akan dihukum, tetapi karena kita ingin membalas cinta Allah yang telah dinyatakan dalam kematian Yesus Kristus untuk kita. Hosea 6:6a berkata, sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan. Dari ayat ini kita tahu bahwa Allah rindu akan balas kasih kita, bukan yang lain-lain. Ketika kita mencintai-Nya, tentu kita berat hati untuk menyakiti hati-Nya, persis ketika kita mencintai pasangan kita.


2. Menjadi Sahabat Allah

Saya memiliki seorang sahabat yang begitu akrab dengan saya. Saya sering curhat padanya, meminta pendapat, memberinya saran, atau sekadar bercanda gurau. Persahabatan dengan Allah bisa saya ibaratkan dengan persahabatan saya dengan orang tersebut, dengan catatan saya masih memposisikan diri saya sebagai ciptaan sedangkan Dia Pencipta.

Jika Anda rindu agar persahabatan Anda lebih dalam lagi, maka ada beberapa point yang bisa Anda lakukan:
-Terbuka, Anda harus jujur mengenai apa yang benar-benar Anda rasakan kepada Allah, tidak perlu sok strong. Anda kecewa, katakan Anda kecewa. Anda marah, katakan Anda marah. Anda tidak terima, katakan Anda tidak terima. Akan tetapi perlu diingat bahwa Anda harus tetap percaya bahwa apa yang terjadi di kehidupan Anda sudah tersusun rapi di naskah yang Allah tulis untuk Anda. Kabar baiknnya, naskah tersebut happy ending.
-Taat, Yesus berkata, kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu (Yohanes 15:14). Menurut Rick Warren, persahabatan dengan persyaratan ini ibarat persahabatan Raja dengan orang-orang biasa. Sahabat dekat raja tersebut memiliki hak-hak istimewa untuk berbicara lepas dengan raja, akan tetapi masih dengan kesadaran bahwa mereka tidak sederajat dengan raja dan harus tunduk kepada raja.
-Peduli dengan apa yang menyenangkan hati Allah atau sebaliknya. Kita pasti tahu apa yang disenangi dan tidak disenangi oleh sahabat kita. Kita tahu apa makanan favoritnya, apa film favoritnya, dan apa hobinya, kita tahu apa yang akan membuatnya sedih, takut, gelisah,kecewa, atau marah. Sebagai sahabat Allah, kita sebaiknya tidak hanya "tahu", melainkan harus juga peduli.


3. Mempercayai Allah Sepenuhnya

Ketika Allah menyuruh Nuh membuat bahtera, tidak mungkin ia tidak bimbang. Aneh saja jika ia membuat sebuah kapal yang sangat besar dan tidak tahu cara membawanya ke air. Orang lain pasti akan mengolok-oloknya. Allah juga menyuruhnya mengumpulkan sepasang binatang dari seluruh jenis hewan, bukankah ini mustahil untuk membawa semuanya. Akan tetapi, Nuh percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan adalah yang terbaik untuk hidupnya.

Ketika Allah memperhadapkan kita dengan suatu ujian, kita harus percaya bahwa Allah merencanakan sesuatu yang lebih baik apabila kita tahan uji. Kita bahkan harus percaya walau hal itu kadang terasa mustahil dan tidak masuk akal. Yesus mengatakan, dengan iman atau kepercayaan kita kepada Allah, kita bahkan bisa memindahkan gunung.


Demikianlah 3 cara agar kita menyenangkan hati Allah. Ketika Anda dan saya mampu melakukannya, maka Anda dan saya pasti menjadi orang yang istimewa seperti Nuh.

Semoga diberkati!