10 Kalimat yang Setiap Anak "Butuh" Dengar dari Orang Tuanya

 
Anak-anak adalah pemberian Allah, sesungguhnya, mereka itu anugerah- Mazmur 127:3 (BIMK)

Keluarga adalah tempat seorang anak pertama kali mendapat kasih sayang dan juga pendidikan. Perilaku seorang anak sebagian besar ditentukan oleh perlakuan dan perkataan yang ia dapatkan dari orang tuanya. Kadangkala, anak menyimpan pedih atas perkataan yang  mereka tidak inginkan diucapkan oleh orang tua, perkataan itu sedikit demi sedikit memengaruhi tingkah laku dan kepribadiannya.

Sebagai orang tua (calon orang tua) yang baik, kita harus menyadari bahwa peran yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sangat besar dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Anak adalah kepercayaan dari Tuhan untuk dirawat dan diarahkan guna mempermuliakan nama-Nya. Berikut 10 kalimat positif yang butuh di dengarkan anak dari orang tuanya.


 1. "Papa dan mama sayang sama kamu" 


Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka disayangi. Semua orang tua pasti menyayangi anaknya, akan tetapi, sudahkah mereka mengatakannya? Bapa kita di surga langsung mengatakan bahwa Ia sangat menyayangi kita; "Karena begitu besar kasih ALLAH..." (Yohanes 3:16) dan juga menunjukkan rasa sayang-Nya itu dalam pengorbanan-Nya di kayu salib. Anak-anak kita juga sangat membutuhkan untuk tahu bahwa mereka disayangi lewat perkataan dan tindakkan kita, mereka butuh setiap hari untuk mendengar dan melihat kasih sayang itu.


2. "Saya memaafkan kesalahanmu, tapi jangan mengulanginya lagi"


Ada seorang anak yang dibuang oleh keluarganya sendiri karena melakukan sebuah kesalahan yang merusak reputasi keluarga. Anak tersebut bertumbuh dewasa tanpa dukungan keluarga. Bahkan, sampai tua dan meninggal pun, ia tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya.

Orang tua Kristen tidak perlu melakukan hal yang di atas. Memaafkan adalah salah satu bentuk kasih. Kasih itu dinyatakan kepada orang lain dan juga keluarga, terlebih Tuhan. Anak-anak yang melakukan kesalahan, tidak perlu dibuang, dihakimi, atau diberi efek jera yang berlebihan, mereka hanya perlu dimaafkan lalu diberi kesempatan untuk tidak mengulanginya lagi dan menjadi anak yang lebih baik.


3. "Kamu sudah mencoba yang terbaik"

Jaman SMA, saya pernah mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten. Berambisi untuk lolos ke provinsi, saya belajar sangat intensif sampai-sampai pelajaran di kelas banyak yang tertinggal. Saat pengumuman, ternyata nama saya berada di urutan keempat, yang artinya saya gagal untuk ke provinsi karena yang diikutkan hanyalah urutan yang pertama sampai ketiga. Hal itu membuat saya down. Saya mengutuki diri saya bodoh. Akan tetapi perkataan ibu saya berhasil menyemangati saya kembali: "Tidak apa-apa, kamu sudah mencoba yang terbaik."


4. "Kamu sangat berharga"


Siapa yang tidak senang saat tahu bahwa mereka berharga? Setiap orang berharga. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berharga dan Tuhan sangat memperhatikan mereka. "Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Matius 10:30-31). Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka berarti untuk kita, dan juga untuk Bapa di surga.


5. "Kamu pasti bisa"


Dulu saya pernah sekelas dengan anak yang terlihat bodoh dalam segala bidang mata pelajaran, padahal kelas itu kelas unggulan. Saat saya sekelompok dengan dia, saya sadar bahwa dia sebenarnya cukup pandai dan lumayan cepat tangkap, tetapi entah kenapa nilainya sering dibawah lima puluh. Usut punya usut, dia ternyata sering direndahkan oleh orang tuanya. Orang tuanya mencap dirinya bodoh sehingga dia pun berpikir bahwa dirinya bodoh dan tidak bisa dalam segala bidang. Orang tuanya lebih suka mengatakan "kamu ini bodoh sekali, coba lihat si A, dia selalu dapat ranking" ketimbang "kalau si A bisa, kamu juga pasti bisa."


6. "Jangan takut! Tuhan selalu menyertaimu"


Anak-anak yang pemberani adalah anak-anak yang tidak takut akan ancaman-ancaman yang akan datang dalam kehidupan mereka. Anak-anak butuh untuk diberi tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk mereka dan menuntun mereka senantiasa (Yesaya 58:11). Jangan sampai anak-anak kita menjadi penakut dan pada akhirnya menjadi pengecut karena mereka tidak tahu bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan selalu bersama-sama dengan mereka dan memberkati apa yang mereka sedang atau akan lakukan.


7. "Mama dan papa senang kok, walaupun kamu belum berhasil"


Motivasi kebanyakan orang untuk sukses ialah supaya orang tua mereka bahagia. Sayangnya, untuk mencapai kesuksesan itu, mereka harus merasakan berbagai kegagalan. Kegagalan itu tentu membuat mereka sedih karena mereka belum bisa membahagiakan orang tua. Pada fase kegagalan inilah orang tua dituntut mengapresiasi usaha anaknya dengan mengatakan "Mama dan papa udah senang kok karena kamu sudah mau berusaha, walaupun kamu belum berhasil."


8. "Kalau kamu baik, orang juga akan baik sama kamu"


Andai semua anak mengerti kalimat tersebut, pastilah kasus bullying di kalangan pelajar tidak setinggi sekarang. Anak-anak perlu untuk diberi tahu "segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12)


9. "Kami menerima kamu apa adanya"


Saya memiliki seorang sepupu yang agaknya dikucilkan dalam keluarganya. Ia selalu dibandingkan dengan adik-adiknya yang pintar. Ibunya pernah berkata kepada saya "Kakakmu si (sebut saja) Fani itu bodoh, suka melawan, malas, tidak seperti adiknya (sebut saja) Epi, dia pintar, penurut dan rajin." Padahal, setelah saya perhatikan, si Fani ini rajin dan penurut, bahkan dia sering mengeluh karena hanya dia sendirilah yang terlalu sering disuruh-suruh.

Orang tua yang baik harus menerima anaknya apa adanya, bukannya malah membanding-bandingkan dengan saudanya. Boleh saja membandingkan sesekali sebagai motivasi anak, tetapi jangan terlalu sering. Anak-anak perlu mendengar orang tuanya mengatakan bahwa mereka menerima mereka walaupun mereka bodoh, memiliki keterbelakangan fisik dan mental, atau belum sehebat saudara dan teman-temannya.


10. "Mama/papa salah, maafin yah"

Orang tua harus berbesar hati mengakui kesalahan mereka kepada anak-anak, tidak hanya agar anak-anak tahu bahwa orang tua juga manusia biasa, tetapi juga agar anak-anak jadi punya acuan untuk melakukan yang lebih baik dan bukan kesalahan seperti yang orang tuanya perbuat.

Tuhan ingin agar umat-Nya saling mengampuni satu sama lain, dan hal ini harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tidak ada pengajaran yang lebih baik selain menjadi contoh itu sendiri. 



Kesimpulannya ...

Melatih anak-anak untuk mengenal dan mengikuti Tuhan adalah tanggung jawab orang tua. Hal tersebut dilakukan sebagai respons untuk menghargai pemberian Tuhan. Ketika seorang anak tahu bahwa ia dicintai, berharga, selalu didukung oleh orang tua, diterima apa adanya, dan diajar untuk memahami pengampunan, maka ia akan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan yang menciptakannya.


Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.

:)

Alasan Orang Kristen Selalu Bersukacita


Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga (Matius 5:12a)

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak peduli di kota atau di desa, kita pasti akan menemukan orang-orang yang mengalami penderitaan seperti kematian, kemiskinan, kelaparan, penyakit, bencana, dan kesenjangan. Masalah-masalah tadi membuat sebagian besar orang tidak dapat merasakan sukacita lagi, sukacita mereka tertutupi oleh awan mendung masalah yang silih berganti hadir dalam kehidupan mereka.

Sebagai orang Kristen, kita diajak untuk tetap bersyukur dan bersukacita sekalipun pergumulan hebat tengah melanda kehidupan kita. Hal ini tentu kelihatan mustahil bagi kita yang hanya manusia biasa, akan tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita akan dimampukan untuk melakukannya. Hal-hal berikut kiranya dapat menjadi alasan kita untuk selalu bersukacita.


Allah sendiri yang telah memilih kita


Kita lahir bukan karena sebuah kebetulan. Allah sendiri yang telah memilih kita dan menugaskan kita dalam suatu misi khusus. Tuhan memiliki rencana dan melibatkan kita di dalamnya.

Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. (Yeremia 1:5)


Allah tidak akan pernah melupakan umatnya


Yesaya 35: 1-10 merupakan perkataan-perkataan penghibur dari nabi Yesaya kepada bangsa Israel dalam masa pembuangan di Babel. Walau masa pembuangan itu adalah hukuman Allah, tetapi Allah tetap menjanjikan sebuah masa depan yang digambarkan sebagai "Sion" yang penuh damai sejahtera.

Hal ini masih berlaku bagi kehidupan kita sekarang. Allah peduli pada penderitaan kita. Ia tidak akan membiarkan manusia mengalami keadaan pahit yang kemudian akan membuatnya sampai stress atau menderita tekanan batin lainnya. Oleh sebab itu, Tuhan beberapa kali mengingatkan kita dalam firman-Nya untuk tetap bersukacita meskipun dalam pencobaan karena masalah-masalah kita tidak akan pernah lebih besar dari kemampuan kita, dan jika Tuhan mengizinkan kita mengalami suatu pergumulan, maka saat itu Ia juga sudah menyiapkan jalan keluar.

Dalam pergumulan menyangkut ekonomi atau apapun itu, orang percaya harus selalu tekun berdoa memohon pertolongan Tuhan. Tetaplah tabah, kuatkanlah hati, berhentilah mengeluh apalagi sampai mempersalahkan orang lain.


Allah selalu beserta kita


Kalimat "Allah menyertai kita" (Imanuel) pertama kali muncul saat para nabi menubuatkan mengenai kelahiran Mesias. Di tengah-tengah pergumulan keluarga Daud yang dipenuhi ketakutan karena musuhnya (raja Aram beserta balatetantara) sudah berkemah di wilayah tanah Efraim, Yesaya datang membawa firman Tuhan tentang seorang keturunan Daud yang akan membebaskan mereka dari ancaman ketakutan (Yesaya 7: 10-16). Nubuat itu telah digenapi dalam Yesus Kristus. Kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia adalah sebagai jaminan bahwa Allah akan menolong, memelihara dan menyertai orang yang percaya kepada-Nya.

Dengan jaminan Tuhan Yesus, maka tidak ada lagi alasan kita untuk takut, merasa sendirian, dan larut dalam masalah karena Allah selalu memegang tangan kita dan berjalan bersama-sama dengan kita.


Kita sudah diselamatkan


Tuhan sendiri yang terlibat langsung melakukan keselamatan sebagai Juruselamat. Tidak ada duta, tidak ada utusan, Allah sendirilah yang menggendong, mengangkat, dan menebus umat-Nya oleh karena kasih setia-Nya yang begitu besar. Manusia tidak boleh sombong dan merendahkan sesama karena keselamatannya bukan hasil usaha sendiri melainkan kasih setia Tuhan saja.

Umat Tuhan harus senantiasa bersukacita dan bersyukur kepada Dia sebab Tuhan Yesus telah lahir, mati, dan bangkit untuk keselamatan kita. Tugas kita selanjutnya adalah menindak-lanjuti kasih setia Tuhan dalam ketaatan kepada Firman Tuhan dan juga kebaikan yang didasarkan oleh kasih.


Allah adalah sumber berkat


Allah akan tetap menjadi gembala bagi kawanan domba-Nya, termasuk yang menderita. Semua orang yang mengikut Dia akan menerima karunia dan berkat-Nya. Berkat-berkat Allah meliputi berkat rohani seperti kenyamanan dan sukacita, dan juga berkat materi seperti kekayaan, asalkan kita hidup dalam ketaatan, pertobatan, dan selalu setiap kepada Tuhan.

Setia kepada Tuhan berarti tidak berpaling, tergoda atau pun khawatir dalam hal apapun, termasuk urusan ekonomi karena Tuhanlah yang akan menyediakan semuanya bagi umat-Nya. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan  ditambahkan kepadamu (Matius 6 : 33).


Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.

:)

5 Tanggung Jawabku terhadap Diriku Sendiri


Hal yang paling penting bagi setiap orang adalah memahami dirinya sendiri. Kamu adalah kamu, kamu berbeda dari yang lain. Kamu memiliki kebebasan untuk bertindak, namun harus mempertanggung jawabkannya.

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah kita perbuat menunjukkan kedewasaan kita sebagai orang percaya. Kedewasaan tidak melulu tentang umur, tetapi juga tentang kemampuan berpikir dan mengambil keputusan sendiri terhadap persoalan, serta selalu berkeinginan untuk maju dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala (bnd Efesus 4:15).

Kita bertanggung jawab terhadap Allah, sesama, kehidupan masyarakat, lingkungan, dan juga diri sendiri. Pada kali ini kita akan membahas 5 tanggung jawab kita terhadap diri sendiri yang wajib kita sebagai orang percaya untuk ketahui.


1. Jujur pada Diri Sendiri


Seorang anak kecil nekat menaiki sepeda tanpa didampingi oleh Ayahnya, padahal ia belum mahir. Ia membohongi dirinya sendiri bahwa ia sudah bisa walaupun hanya dengan sekali belajar. Sekitar lima-enam meter mengayuh sepeda, anak tersebut kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Lutut dan siku pun lecet akibat kecerebohan anak itu.

Kejujuran sangatlah penting. Manusia perlu untuk jujur dalam kehidupannya terhadap Allah, sesama, dan juga terhadap dirinya sendiri. Jujur dengan diri sendiri adalah menerima diri apa adanya, menerima kelebihan dan kekurangan, baik dan buruknya. Sebagai manusia biasa kita harus menyadari bahwa kita tidak sempurna. Anak dalam ilustrasi tadi perlu mengakui bahwa dirinya masih sangat awam dan belum bisa untuk mengendarai sepeda sendiri tanpa didampingi orang tua.

Setelah menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka jangan berkecil hati, tetapi mintalah pertolongan Tuhan dan bersyukurlah karena kita diciptakan dengan keunikan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Lakukan yang terbaik untuk mengembangkan keunikan itu!


2. Bertumbuh Setiap Hari


Pertumbuhan diri berarti menjadikan diri lebih menarik setiap harinya. Ketika kamu mau bertumbuh, maka kamu harus berhenti menoleh kebelakang. Move on dong boy :D. Kita harus terus berjalan menuju kearah Kristus Yesus, sebagaimana terdapat dalam Filipi 3:13b-14 "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Mencapai cita-cita setinggi mungkin. Perlu digaris-bawahi bahwa cita-cita tersebut tidak menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Untuk menggapainya, kita harus minta pertolongan Tuhan dan mengusahakan segala sesuatu yang menolong kita menjadi semakin baik. Dalam prakteknya, kita harus siap diperbaharui, melalui sikap dan tindakan yang mau mengakui segala dosa-dosa kita, dan juga belajar untuk mengenal Kristus dengan sungguh, sebab Kristus akan mengubah segala sesuatu yang ada dalam hidup kita menjadi kebaikan kita (Roma 8:2).


3.  Mencintai Diri Sendiri


Apakah kamu mencintai dirimu sendiri? Hal ini perlu dipertanyakan sebagai langkah awal untuk melihat apakah kamu bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri. Mencintai diri sendiri yang dimaksud bukanlah "narsis" layaknya pengertian banyak muda-mudi jaman now, melainkan sebuah penghargaan terhadap diri sendiri sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan.

Kita tidak bisa mengasihi sesama kita, jika kita sendiri tidak mengasihi diri kita sendiri, hukum kasih yang kedua (matius 22:39) berkata "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


4. Kreatif

Kreatif (english: creative) berasal dari kata "create" yang artinya menghasilkan, membuat atau membentuk sesuatu yang dulunya tidak ada menjadi ada. Kreativitas berarti melakukan atau menghasilkan sesuatu hal dengan berbeda.

Untuk menjadi pribadi yang kreatif, kita harus sering mencari, memikirkan, dan membuat hal-hal yang baru dengan cara menambah ilmu dan pengetahuan yang baru, karena situasi yang baru dapat memunculkan pandangan yang baru. Selain itu, kita juga harus pandai memperhatikan secara kritis situasi dan kondisi lingkungan kita untuk menciptakan kemungkinan "dapat" membangun sikap dan tindakan kreatif dalam diri kita.


5. Membangun Konsep Diri yang Positif


Konsep diri yang positif atau negatif memiliki dampak yang sangat besar. Konsep diri yang positif adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui, memahami, dan menerima secara positif konsep, pemahaman, serta gambaran dirinya sendiri, baik sisi positif maupun sisi negatif dalam dirinya. Ciri-ciri orang dengan konsep diri yang positif adalah tidak sombong, menerima kekurangan dirinya tanpa merasa rendah diri, percaya diri, tidak membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, mengetahui kemampuan dan mampu mengembangkannya dengan baik, toleran, berani, bertanggung jawab, mudah beradaptasi, tidak mudah putus asa, dan sikap-sikap positif lainnya.



Itulah lima tanggung jawab kita terhadap diri sendiri. Tanggung jawab tersebut harus kita miliki dan juga kita kembangkan agar hidup kita lebih baik lagi dari hari kemarin.

Sekian and God Bless you guys.

:)

Renungkan Sejenak! 12 Nilai-nilai Kristiani yang Harus Kamu Miliki

  


Orang Kristen seharusnya tak hanya sekedar Kristen. Yesus berkata bahwa jika ingin mengikut Dia, kita harus memikul salib, menanggalkan manusia lama kita, dan mengenakan manusia baru. Orang percaya harus melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Tentu ini tidak mudah, Tuhan Yesus itu Mesias sedangkan kita hanya manusia biasa. Tapi tenang saja, kita tidak diminta untuk menjadi persis seperti Kristus, kita hanya diminta untuk hari demi hari diperbaharui agar mampu berkembang dan menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus berarti kita harus menyatakan kuasa Allah dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam perkataan atau pemikiran kita.

Berikut 12 nilai-nilai Kristiani yang harus kita miliki dalam kehidupan sehari-hari!

1. Tujuan hidup yang baik dan benar

 Kita diciptakan oleh Allah untuk suatu tujuan. Allah tidak pernah menciptakan sampah, kamu diciptakan untuk memiliki nilai guna bagi orang lain dan lingkungan.

Tujuan hidup kita seharusnya "baik" dan "benar." Orang diluar Kristen juga banyak yang memiliki tujuan hidup, akan tetapi, apakah tujuan hidup mereka itu sudah sesuai dengan kehendak Allah?

Baik, dimaksudkan, bahwa apapun tujuan kita, kita harus menciptakan dan menjaga harmonisasi bukannya kesenjangan dalam kehidupan kita dan sesama kita manusia. Saat kamu sudah menjadi orang yang terpandang, kamu harus tetap menjaga hubungan baikmu dengan keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, guru, dan orang-orang lainnya, jangan menjadi arogan, kacang yang lupa kulitnya, atau bahkan menjadi pemicuh perselisihan! Tidak hanya keharmonisan kehidupan manusia, kehidupan alam semesta, lingkungan, dan dunia pun harus kita ciptakan dan lindungi. Bacalah kejadian 1 untuk melihat contoh kehidupan yang baik dan harmonis itu.

Benar, dimaksudkan, bahwa apapun yang menjadi tujuan kita, harus sesuai dengan kehendak, kebenaran, dan rencana Allah. Yohanes 3:20-21 berkata demikian, "Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatan jahatnya itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

2. Kebebasan yang bertanggung jawab

Salah satu hak istimewa kita adalah kebebasan. Kebebasan tersebut berupa kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk menentukan segala sesuatu, dan kebebasan untuk mengambil sikap atau tindakan.

Pada akhirnya kebebasan kita akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Oleh karena itu, kebebasan kita harus dalam kebenaran dan kehendak Allah. Jika tidak, kita akan berada dalam ketidakbebasan oleh hukuman Allah atas dosa-dosa kita, kita tidak bebas menjalani kehidupan yang penuh sukacita, sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a).

3. Makhluk sosial yang baik

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkan orang lain. Hawa diciptakan mendampingi Adam karena Allah melihat bahwa tidak baik jika manusia dijadikan seorang diri saja.

Dalam kebersamaan kita dengan orang-orang sekeliling kita, tentu terdapat banyak perbedaan sehingga kita saling bergantung satu sama lain. Inilah yang sering menjadi permasalahan dalam suatu persekutuan yaitu perbedaan. Kita terkadang memaksa orang lain untuk menjadi seperti kita dan tidak menghargai keunikan orang lain. Kita memang diberi kebebasan untuk mengkritik orang lain, tetapi kebebasan itu harus tetap berada dalam batas-batasnya, jangan sampai kita malah mendikte orang lain, bahkan melanggar wilayah kebebasan orang lain sebagai individu.

4. Berpikir positif

 Kalau kita mau berpikir positif, maka kita memiliki peluang untuk membuang hal yang tidak baik sehingga bisa mencapai tujuan yang baik. Hal yang bisa dilakukan untuk membangun pemikiran yang positif adalah sebagai berikut:

-Berpikir tenang, tidak mudah terpancing emosi,
-Membuang pikiran buruk yang belum atau pernah terjadi, 
-Mencari sisi-sisi yang baik, melihat segala sesuatu dari sisi yang menyenangkan,
-Memperbaiki sisi-sisi yang buruk,
-Memandang kesulitan sebagai tantangan dan peluang untuk maju.

5. Hidup dalam kesatuan rohani dan jasmani (Kesejatian)

Kesatuan roh dan badan adalah kesejatian manusia. Apa yang dikatakan dan dilakukan manusia harus selaras dengan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Hal ini bertujuan supaya kita memiliki kekuatan identitas dan daya hidup untuk menghadapi berbagai persoalan. Kenyataannya, manusia sulit melakukannya karena kita semua lebih suka dengan suasana basa-basi, kemunafikan, dan kebohongan.

Kesejatian kita harus menampilkan hal-hal positif dan menyadari hal-hal negatif yang harus diperbaiki. Kesejatian tidak menempatkan diri sendiri sebagai yang paling baik dari orang lain. Kesejatian positif menghargai kesejatian orang lain. Kesejatian adalah keselarasan, bukan suasana menang atau kalah.

6. Memiliki kewajiban dan pengabdian kepada Allah

Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan, apabila tidak, akan dikenakan sanksi. Menjalankan kewajiban adalah melakukan segala sesuatu karena aturan dan tuntutan. Sebagai orang percaya, sudahkah kamu mengetahui apa yang menjadi kewajiban kita?

Pengabdian adalah melakukan sesuatu bukan karena tuntutan, melainkan kesadaran diri sendiri. Mengabdi kepada Allah berarti kita menjadi pengikut-Nya dan melakukan kehendak-Nya, bukan karena Dia yang menuntut atau memaksa kita, melainkan karena kita menyadari bahwa kita harus melakukannya untuk membalas kasih-Nya yang begitu besar.

7. Percaya diri

Rasa percaya diri memampukan manusia agar tidak mudah diombang-ambingkan keadaan. Kita dapat memperoleh kepercayaan diri melalui kemampuan melihat kenyataan diri sendiri, menerima kenyataan diri, dan mencintai diri sendiri.

8. Selalu bersyukur dan bersukacita

Jika kamu sedang berada dalam situasi yang benar-benar kacau dan rasanya tidak mungkin untuk bisa bersyukur dan bersukacita, maka tetaplah bersyukur dan bersukacita sebab Tuhan kita sangat baik, Ia menciptakan bumi dan segala isinya dengan baik, Tuhan Yesus telah mati untuk keselamatan kita, Ia berjanji untuk tetap beserta kita, Ia akan selalu menolong kita dalam keadaan apapun, dan memberikan kita kehidupan yang kekal di surga.

9. Jujur, dapat dipercaya, selalu memenuhi janji

Kata jujur dipakai dalam Alkitab sebanyak 27 kali dalam bentuk kata kerja dan 119 kali dalam bentuk kata sifat. Hal ini menunjukkan bahwa kata itu sangat bernilai bagi orang-orang percaya. Orang yang jujur adalah orang yang berjalan lurus sebagaimana seharusnya sesuai dengan firman Tuhan. Ia bukan pembual, bukan penipu, dan ia adalah orang yang dapat dipercaya.

10. Tidak mudah putus asa

Tidak mudah putus asa adalah sikap dan tindakan yang mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Sikap ini memampukan seseorang dapat menekan sekecil mungkin kemungkinan mengalami kegagalan, serta dapat menghadapi berbagai masalah.

11. Berpikir kreatif dan berimajinasi konstruktif

Selalu berusaha menciptakan hal-hal yang baru, yang positif, dan yang bermanfaat membangun sesuatu yang baru.

12. Mengakui kesalahan, mengucapkan terima kasih, menciptakan perdamaian

Orang percaya selalu rindu untuk menciptakan perdamaian dengan sesamanya. Oleh sebab itu, orang Kristen harus selalu rela untuk mengakui kesalahan dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain. Kedamaian adalah suatu keadaan dimana kehendak Allah dapat terlaksana dengan baik.


12 nilai-nilai tersebut harus semaksimal mungkin kita miliki dan lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari demi masa depan yang lebih baik. Tentu tidak mudah untuk melakukannya, tetapi Anda harus memulainya hari ini juga. 

Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati!

:)