8 Hal yang Orang Kristen Harus Hindari di Media Sosial


Kalau zaman dulu ada istilah "mulutmu harimaumu," maka zaman sekarang sudah menjadi "postinganmu harimaumu," atau "media sosialmu harimaumu."

Tidak dapat dipungkiri, begitu banyak kasus pelecehan, pencemaran nama baik, pertengkaran, perselisihan, perceraian, penculikan, bahkan pembunuhan yang berawal dari postingan di media sosial. Jangan sampai media sosial yang awalnya diciptakan untuk tujuan memudahkan komunikasi kita dengan orang lain, justru disalahgunakan sehingga media sosial malah menjadi pemutus komunikasi kita dengan orang lain.

Walaupun ada yang mengatakan "sekarang kan memang jamannya nge-toxic dan nge-bad word di sosmed, and it's okay." It's big No untuk kita orang kristen. Ingat, Alkitab mengajarkan untuk tidak menjadi serupa dengan dunia dan harus tahu membedakan yang baik dan yang tidak baik, yang berkenan dihadapan Tuhan dan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan (Roma 12:2). Jadi, kalau yang sesuai dengan zaman tapi tidak sesuai dengan Firman Tuhan, maka itu tidak perlu kita lakukan, ambil sisi positifnya saja.

Ketika kita media sosial, maka kita harus paham akan konsekuensi yang akan diterima. Berikut 8 hal yang orang Kristen harus hindari saat bermedia sosial.


1. Mengunggah Foto Berbau Sensual


Tanpa bermaksud merendahkan gender tertentu, point yang pertama ini paling sering dilakukan oleh perempuan. Mereka sering mengunggah foto liburan mereka di pantai. Faktanya, budaya ini juga sudah banyak dilakukan oleh orang Asia, mereka menyebut ini sah-sah saja, jika ada yang tidak setuju, orang itu dianggap masih berpikiran kuno. Apakah hal ini dapat dibenarkan? Saya rasa tidak, kalau dibetulkan ya bisa saja.

Dampak negatif dari hal ini tidak hanya ke si pengunggah foto vulgar, tetapi juga kepada si viewer terutama kaum pria. Matius 5:28 berbunyi: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah didalam hatinya." Ayat Alkitab ini merinci bahwa perzinahan tidak sekedar berhubungan seksual. Memosting foto yang mengundang orang lain berimajinasi liar sama dengan membuat orang lain jatuh dalam dosa perzinahan. Hukum ini berlaku baik bagi laki-laki, maupun perempuan.


2. Menggunakan Bahasa yang Kasar (badword, toxic)


Kata-kata kasar dan kotor dianggap gaul oleh anak muda jaman now. Mereka menganggap bertutur sopan hanya untuk orang-orang kamp*ngan, orang-orang tidak gaul, atau orang-orang munafik. Tontonan film juga banyak terdapat kata-kata kasar dan kotor. Lalu apa kata Alkitab? Efesus 4:29 "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."



 3. Menyindir Orang Lain


Hal ini yang paling sering kita jumpai di media sosial. Mudah-mudahan Anda bukan salah satunya. Niat orang yang menyindir di media sosial ini ada 2 macam: yang pertama yaitu mereka yang menyindir karena tidak suka dengan orang tersebut dan ingin orang lain ikut membenci orang itu juga, yang kedua yaitu mereka yang menyindir karena ingin orang tersebut segera menyadari kesalahannya. Point yang kedua niatnya mulia, hanya saja caranya yang jelek. Alkitab berkata: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali." Yang artinya ketika seseorang berbuat salah, kita tidak perlu mengumumkannya ke teman media sosial kita yang lain, cukup dengan langsung memberi tahu orang tersebut.


4. Menyebarkan Hoax dan Gosip


Masih ingat tagar #JusticeForAudrey yang sempat viral di media sosial beberapa bulan yang lalu? Isu yang viral saat itu menyebut si korban "Audrey" dikeroyok 12 pelaku dan merusak area sensitif korban. Mendikbud menegaskan bahwa isu itu tidak benar karena sesuai hasil visum, tidak ada luka robek atau memar pada selaput darah korban. Padahal kasus Audrey ini sudah menyita perhatian publik selama beberapa hari bahkan ada beberapa publik figur yang datang ke kota Pontianak hanya untuk menjenguk Audrey.

Kasus ini mengingatkan kepada kita bahwa media sosial sangat rentan dengan kabar-kabar hoax dan si penyebar hoax tidak akan luput dari hukuman sebagaimana terdapat dalam Amsal 19:9 "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa." Oleh sebab itu, sebagai pengguna media sosial yang bijak, kelola dan pastikanlah dahulu informasi yang kita dapatkan baru disebarkan, jangan disebarkan dulu baru dipastikan.

Selanjutnya adalah gosip. Gosip merusak nama orang lain sekaligus juga merusak citra kita di hadapan Tuhan. Pengertian gosip adalah suatu berita yang menyebar yang belum tentu atau tanpa berlandaskan pada kenyetaan atau fakta. Jadi, gosip belum dapat dipastikan kebenarannya. Gosip selalu berisi hal negatif dan orang Kristen dilarang untuk melakukan ini, lihat dalam Amsal 11:13 "Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi yang setia menutupi perkara." Ingatlah bahwa gosip selalu mengundang pertengkaran, padahal tujuan kita adalah membuat perdamaian bukan sebaliknya.


5. Pamer Barang Mahal


Trend selfie sekarang adalah selfie sambil memamerkan barang-barang mahal entah itu smartphone keluaran terbaru, tas yang kelewat mahal, mobil baru, dan sebagainya. Postingan model ini terkadang disertai niat menyombongkan diri atas apa yang orang-orang itu miliki dan "tidak kita miliki."

Perlu diketahui bahwa ketika kita melakukan hal tadi, kita membuat teman media sosial kita jadi membandingkan berkatnya dengan berkat kita, sehingga secara tidak langsung kita membuat mereka melanggar perintah "Jangan mengingini milik sesamamu" (keluaran 20:17). Mari kita meneladani Rasul Paulus yang bermegah atas kelemahannya (2 Korintus 11:30).


6. Berkomentar dengan Cara yang Salah

Di berbagai platform media sosial, telah disediakan kolom komentar sehingga kita bisa mengomentari postingan orang lain. Kolom komentar ini terkadang disalahgunakan oleh orang tertentu yang justru malah menyakiti hati si pemosting. Maka dari itu, sebelum berkomentar tanyakan dulu "apakah komentar saya ini bermanfaat dan apa konsekuensinya?"


7. Membuat Postingan yang Bernada Provokatif


Saat musim politik kemarin, berbagai postingan bernada provokatif mudah dijumpai. Kubu berbeda saling menjelekkan satu sama lain agar ia bisa memenangi pertempuran politik. Lalu apa Alkitab? Amsal 18:6-8 mengatakan bahwa orang yang menimbulkan "perbantahan" sama dengan orang yang meminta pukulan. Orang Kristen tidak perlu untuk membuat postingan berbau politik atau apapun itu jika bernada provokatif, bukankah lebih baik jika kita membuat postingan yang memberkati orang lain dan berisi ucapan syukur?


8. Terlalu Merendahkan Diri (Minta Dikasihani)


Banyak postingan yang kita temukan di media sosial yang ber-caption "Maaf jelek," ada juga "Saya adalah orang yang tidak beruntung," dan sebagainya. Orang lain yang melihat postingan ini tentu terpancing untuk membantah apalagi kalau tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya, si pemosting berkata bahwa dia jelek tetapi sebenarnya cantik. Saya rasa postingan ini tidak benar, bukankah kita harus menunjukkan ucapan syukur kita kepada Tuhan karena yang dia ciptakan semuanya baik? Bukan berarti kita juga harus menyombongkan diri, tetapi tetaplah jadi pribadi yang rendah hati bukan rendah diri.


Orang zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermedia sosial daripada membaca Alkitab, oleh karena itu marilah kita membuat media sosial kita berisi kebenaran Firman Tuhan agar kita dapat menjadi berkat bagi teman media sosial kita yang membaca.

Sekian dan terima kasih.

:)

10 Kalimat yang Setiap Anak "Butuh" Dengar dari Orang Tuanya

 
Anak-anak adalah pemberian Allah, sesungguhnya, mereka itu anugerah- Mazmur 127:3 (BIMK)

Keluarga adalah tempat seorang anak pertama kali mendapat kasih sayang dan juga pendidikan. Perilaku seorang anak sebagian besar ditentukan oleh perlakuan dan perkataan yang ia dapatkan dari orang tuanya. Kadangkala, anak menyimpan pedih atas perkataan yang  mereka tidak inginkan diucapkan oleh orang tua, perkataan itu sedikit demi sedikit memengaruhi tingkah laku dan kepribadiannya.

Sebagai orang tua (calon orang tua) yang baik, kita harus menyadari bahwa peran yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sangat besar dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Anak adalah kepercayaan dari Tuhan untuk dirawat dan diarahkan guna mempermuliakan nama-Nya. Berikut 10 kalimat positif yang butuh di dengarkan anak dari orang tuanya.


 1. "Papa dan mama sayang sama kamu" 


Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka disayangi. Semua orang tua pasti menyayangi anaknya, akan tetapi, sudahkah mereka mengatakannya? Bapa kita di surga langsung mengatakan bahwa Ia sangat menyayangi kita; "Karena begitu besar kasih ALLAH..." (Yohanes 3:16) dan juga menunjukkan rasa sayang-Nya itu dalam pengorbanan-Nya di kayu salib. Anak-anak kita juga sangat membutuhkan untuk tahu bahwa mereka disayangi lewat perkataan dan tindakkan kita, mereka butuh setiap hari untuk mendengar dan melihat kasih sayang itu.


2. "Saya memaafkan kesalahanmu, tapi jangan mengulanginya lagi"


Ada seorang anak yang dibuang oleh keluarganya sendiri karena melakukan sebuah kesalahan yang merusak reputasi keluarga. Anak tersebut bertumbuh dewasa tanpa dukungan keluarga. Bahkan, sampai tua dan meninggal pun, ia tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya.

Orang tua Kristen tidak perlu melakukan hal yang di atas. Memaafkan adalah salah satu bentuk kasih. Kasih itu dinyatakan kepada orang lain dan juga keluarga, terlebih Tuhan. Anak-anak yang melakukan kesalahan, tidak perlu dibuang, dihakimi, atau diberi efek jera yang berlebihan, mereka hanya perlu dimaafkan lalu diberi kesempatan untuk tidak mengulanginya lagi dan menjadi anak yang lebih baik.


3. "Kamu sudah mencoba yang terbaik"

Jaman SMA, saya pernah mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten. Berambisi untuk lolos ke provinsi, saya belajar sangat intensif sampai-sampai pelajaran di kelas banyak yang tertinggal. Saat pengumuman, ternyata nama saya berada di urutan keempat, yang artinya saya gagal untuk ke provinsi karena yang diikutkan hanyalah urutan yang pertama sampai ketiga. Hal itu membuat saya down. Saya mengutuki diri saya bodoh. Akan tetapi perkataan ibu saya berhasil menyemangati saya kembali: "Tidak apa-apa, kamu sudah mencoba yang terbaik."


4. "Kamu sangat berharga"


Siapa yang tidak senang saat tahu bahwa mereka berharga? Setiap orang berharga. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berharga dan Tuhan sangat memperhatikan mereka. "Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Matius 10:30-31). Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka berarti untuk kita, dan juga untuk Bapa di surga.


5. "Kamu pasti bisa"


Dulu saya pernah sekelas dengan anak yang terlihat bodoh dalam segala bidang mata pelajaran, padahal kelas itu kelas unggulan. Saat saya sekelompok dengan dia, saya sadar bahwa dia sebenarnya cukup pandai dan lumayan cepat tangkap, tetapi entah kenapa nilainya sering dibawah lima puluh. Usut punya usut, dia ternyata sering direndahkan oleh orang tuanya. Orang tuanya mencap dirinya bodoh sehingga dia pun berpikir bahwa dirinya bodoh dan tidak bisa dalam segala bidang. Orang tuanya lebih suka mengatakan "kamu ini bodoh sekali, coba lihat si A, dia selalu dapat ranking" ketimbang "kalau si A bisa, kamu juga pasti bisa."


6. "Jangan takut! Tuhan selalu menyertaimu"


Anak-anak yang pemberani adalah anak-anak yang tidak takut akan ancaman-ancaman yang akan datang dalam kehidupan mereka. Anak-anak butuh untuk diberi tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk mereka dan menuntun mereka senantiasa (Yesaya 58:11). Jangan sampai anak-anak kita menjadi penakut dan pada akhirnya menjadi pengecut karena mereka tidak tahu bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan selalu bersama-sama dengan mereka dan memberkati apa yang mereka sedang atau akan lakukan.


7. "Mama dan papa senang kok, walaupun kamu belum berhasil"


Motivasi kebanyakan orang untuk sukses ialah supaya orang tua mereka bahagia. Sayangnya, untuk mencapai kesuksesan itu, mereka harus merasakan berbagai kegagalan. Kegagalan itu tentu membuat mereka sedih karena mereka belum bisa membahagiakan orang tua. Pada fase kegagalan inilah orang tua dituntut mengapresiasi usaha anaknya dengan mengatakan "Mama dan papa udah senang kok karena kamu sudah mau berusaha, walaupun kamu belum berhasil."


8. "Kalau kamu baik, orang juga akan baik sama kamu"


Andai semua anak mengerti kalimat tersebut, pastilah kasus bullying di kalangan pelajar tidak setinggi sekarang. Anak-anak perlu untuk diberi tahu "segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12)


9. "Kami menerima kamu apa adanya"


Saya memiliki seorang sepupu yang agaknya dikucilkan dalam keluarganya. Ia selalu dibandingkan dengan adik-adiknya yang pintar. Ibunya pernah berkata kepada saya "Kakakmu si (sebut saja) Fani itu bodoh, suka melawan, malas, tidak seperti adiknya (sebut saja) Epi, dia pintar, penurut dan rajin." Padahal, setelah saya perhatikan, si Fani ini rajin dan penurut, bahkan dia sering mengeluh karena hanya dia sendirilah yang terlalu sering disuruh-suruh.

Orang tua yang baik harus menerima anaknya apa adanya, bukannya malah membanding-bandingkan dengan saudanya. Boleh saja membandingkan sesekali sebagai motivasi anak, tetapi jangan terlalu sering. Anak-anak perlu mendengar orang tuanya mengatakan bahwa mereka menerima mereka walaupun mereka bodoh, memiliki keterbelakangan fisik dan mental, atau belum sehebat saudara dan teman-temannya.


10. "Mama/papa salah, maafin yah"

Orang tua harus berbesar hati mengakui kesalahan mereka kepada anak-anak, tidak hanya agar anak-anak tahu bahwa orang tua juga manusia biasa, tetapi juga agar anak-anak jadi punya acuan untuk melakukan yang lebih baik dan bukan kesalahan seperti yang orang tuanya perbuat.

Tuhan ingin agar umat-Nya saling mengampuni satu sama lain, dan hal ini harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tidak ada pengajaran yang lebih baik selain menjadi contoh itu sendiri. 



Kesimpulannya ...

Melatih anak-anak untuk mengenal dan mengikuti Tuhan adalah tanggung jawab orang tua. Hal tersebut dilakukan sebagai respons untuk menghargai pemberian Tuhan. Ketika seorang anak tahu bahwa ia dicintai, berharga, selalu didukung oleh orang tua, diterima apa adanya, dan diajar untuk memahami pengampunan, maka ia akan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan yang menciptakannya.


Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.

:)

Alasan Orang Kristen Selalu Bersukacita


Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga (Matius 5:12a)

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak peduli di kota atau di desa, kita pasti akan menemukan orang-orang yang mengalami penderitaan seperti kematian, kemiskinan, kelaparan, penyakit, bencana, dan kesenjangan. Masalah-masalah tadi membuat sebagian besar orang tidak dapat merasakan sukacita lagi, sukacita mereka tertutupi oleh awan mendung masalah yang silih berganti hadir dalam kehidupan mereka.

Sebagai orang Kristen, kita diajak untuk tetap bersyukur dan bersukacita sekalipun pergumulan hebat tengah melanda kehidupan kita. Hal ini tentu kelihatan mustahil bagi kita yang hanya manusia biasa, akan tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita akan dimampukan untuk melakukannya. Hal-hal berikut kiranya dapat menjadi alasan kita untuk selalu bersukacita.


Allah sendiri yang telah memilih kita


Kita lahir bukan karena sebuah kebetulan. Allah sendiri yang telah memilih kita dan menugaskan kita dalam suatu misi khusus. Tuhan memiliki rencana dan melibatkan kita di dalamnya.

Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. (Yeremia 1:5)


Allah tidak akan pernah melupakan umatnya


Yesaya 35: 1-10 merupakan perkataan-perkataan penghibur dari nabi Yesaya kepada bangsa Israel dalam masa pembuangan di Babel. Walau masa pembuangan itu adalah hukuman Allah, tetapi Allah tetap menjanjikan sebuah masa depan yang digambarkan sebagai "Sion" yang penuh damai sejahtera.

Hal ini masih berlaku bagi kehidupan kita sekarang. Allah peduli pada penderitaan kita. Ia tidak akan membiarkan manusia mengalami keadaan pahit yang kemudian akan membuatnya sampai stress atau menderita tekanan batin lainnya. Oleh sebab itu, Tuhan beberapa kali mengingatkan kita dalam firman-Nya untuk tetap bersukacita meskipun dalam pencobaan karena masalah-masalah kita tidak akan pernah lebih besar dari kemampuan kita, dan jika Tuhan mengizinkan kita mengalami suatu pergumulan, maka saat itu Ia juga sudah menyiapkan jalan keluar.

Dalam pergumulan menyangkut ekonomi atau apapun itu, orang percaya harus selalu tekun berdoa memohon pertolongan Tuhan. Tetaplah tabah, kuatkanlah hati, berhentilah mengeluh apalagi sampai mempersalahkan orang lain.


Allah selalu beserta kita


Kalimat "Allah menyertai kita" (Imanuel) pertama kali muncul saat para nabi menubuatkan mengenai kelahiran Mesias. Di tengah-tengah pergumulan keluarga Daud yang dipenuhi ketakutan karena musuhnya (raja Aram beserta balatetantara) sudah berkemah di wilayah tanah Efraim, Yesaya datang membawa firman Tuhan tentang seorang keturunan Daud yang akan membebaskan mereka dari ancaman ketakutan (Yesaya 7: 10-16). Nubuat itu telah digenapi dalam Yesus Kristus. Kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia adalah sebagai jaminan bahwa Allah akan menolong, memelihara dan menyertai orang yang percaya kepada-Nya.

Dengan jaminan Tuhan Yesus, maka tidak ada lagi alasan kita untuk takut, merasa sendirian, dan larut dalam masalah karena Allah selalu memegang tangan kita dan berjalan bersama-sama dengan kita.


Kita sudah diselamatkan


Tuhan sendiri yang terlibat langsung melakukan keselamatan sebagai Juruselamat. Tidak ada duta, tidak ada utusan, Allah sendirilah yang menggendong, mengangkat, dan menebus umat-Nya oleh karena kasih setia-Nya yang begitu besar. Manusia tidak boleh sombong dan merendahkan sesama karena keselamatannya bukan hasil usaha sendiri melainkan kasih setia Tuhan saja.

Umat Tuhan harus senantiasa bersukacita dan bersyukur kepada Dia sebab Tuhan Yesus telah lahir, mati, dan bangkit untuk keselamatan kita. Tugas kita selanjutnya adalah menindak-lanjuti kasih setia Tuhan dalam ketaatan kepada Firman Tuhan dan juga kebaikan yang didasarkan oleh kasih.


Allah adalah sumber berkat


Allah akan tetap menjadi gembala bagi kawanan domba-Nya, termasuk yang menderita. Semua orang yang mengikut Dia akan menerima karunia dan berkat-Nya. Berkat-berkat Allah meliputi berkat rohani seperti kenyamanan dan sukacita, dan juga berkat materi seperti kekayaan, asalkan kita hidup dalam ketaatan, pertobatan, dan selalu setiap kepada Tuhan.

Setia kepada Tuhan berarti tidak berpaling, tergoda atau pun khawatir dalam hal apapun, termasuk urusan ekonomi karena Tuhanlah yang akan menyediakan semuanya bagi umat-Nya. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan  ditambahkan kepadamu (Matius 6 : 33).


Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.

:)

5 Tanggung Jawabku terhadap Diriku Sendiri


Hal yang paling penting bagi setiap orang adalah memahami dirinya sendiri. Kamu adalah kamu, kamu berbeda dari yang lain. Kamu memiliki kebebasan untuk bertindak, namun harus mempertanggung jawabkannya.

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah kita perbuat menunjukkan kedewasaan kita sebagai orang percaya. Kedewasaan tidak melulu tentang umur, tetapi juga tentang kemampuan berpikir dan mengambil keputusan sendiri terhadap persoalan, serta selalu berkeinginan untuk maju dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala (bnd Efesus 4:15).

Kita bertanggung jawab terhadap Allah, sesama, kehidupan masyarakat, lingkungan, dan juga diri sendiri. Pada kali ini kita akan membahas 5 tanggung jawab kita terhadap diri sendiri yang wajib kita sebagai orang percaya untuk ketahui.


1. Jujur pada Diri Sendiri


Seorang anak kecil nekat menaiki sepeda tanpa didampingi oleh Ayahnya, padahal ia belum mahir. Ia membohongi dirinya sendiri bahwa ia sudah bisa walaupun hanya dengan sekali belajar. Sekitar lima-enam meter mengayuh sepeda, anak tersebut kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Lutut dan siku pun lecet akibat kecerebohan anak itu.

Kejujuran sangatlah penting. Manusia perlu untuk jujur dalam kehidupannya terhadap Allah, sesama, dan juga terhadap dirinya sendiri. Jujur dengan diri sendiri adalah menerima diri apa adanya, menerima kelebihan dan kekurangan, baik dan buruknya. Sebagai manusia biasa kita harus menyadari bahwa kita tidak sempurna. Anak dalam ilustrasi tadi perlu mengakui bahwa dirinya masih sangat awam dan belum bisa untuk mengendarai sepeda sendiri tanpa didampingi orang tua.

Setelah menyadari bahwa kita tidak sempurna, maka jangan berkecil hati, tetapi mintalah pertolongan Tuhan dan bersyukurlah karena kita diciptakan dengan keunikan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Lakukan yang terbaik untuk mengembangkan keunikan itu!


2. Bertumbuh Setiap Hari


Pertumbuhan diri berarti menjadikan diri lebih menarik setiap harinya. Ketika kamu mau bertumbuh, maka kamu harus berhenti menoleh kebelakang. Move on dong boy :D. Kita harus terus berjalan menuju kearah Kristus Yesus, sebagaimana terdapat dalam Filipi 3:13b-14 "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Mencapai cita-cita setinggi mungkin. Perlu digaris-bawahi bahwa cita-cita tersebut tidak menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Untuk menggapainya, kita harus minta pertolongan Tuhan dan mengusahakan segala sesuatu yang menolong kita menjadi semakin baik. Dalam prakteknya, kita harus siap diperbaharui, melalui sikap dan tindakan yang mau mengakui segala dosa-dosa kita, dan juga belajar untuk mengenal Kristus dengan sungguh, sebab Kristus akan mengubah segala sesuatu yang ada dalam hidup kita menjadi kebaikan kita (Roma 8:2).


3.  Mencintai Diri Sendiri


Apakah kamu mencintai dirimu sendiri? Hal ini perlu dipertanyakan sebagai langkah awal untuk melihat apakah kamu bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri. Mencintai diri sendiri yang dimaksud bukanlah "narsis" layaknya pengertian banyak muda-mudi jaman now, melainkan sebuah penghargaan terhadap diri sendiri sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan.

Kita tidak bisa mengasihi sesama kita, jika kita sendiri tidak mengasihi diri kita sendiri, hukum kasih yang kedua (matius 22:39) berkata "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


4. Kreatif

Kreatif (english: creative) berasal dari kata "create" yang artinya menghasilkan, membuat atau membentuk sesuatu yang dulunya tidak ada menjadi ada. Kreativitas berarti melakukan atau menghasilkan sesuatu hal dengan berbeda.

Untuk menjadi pribadi yang kreatif, kita harus sering mencari, memikirkan, dan membuat hal-hal yang baru dengan cara menambah ilmu dan pengetahuan yang baru, karena situasi yang baru dapat memunculkan pandangan yang baru. Selain itu, kita juga harus pandai memperhatikan secara kritis situasi dan kondisi lingkungan kita untuk menciptakan kemungkinan "dapat" membangun sikap dan tindakan kreatif dalam diri kita.


5. Membangun Konsep Diri yang Positif


Konsep diri yang positif atau negatif memiliki dampak yang sangat besar. Konsep diri yang positif adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui, memahami, dan menerima secara positif konsep, pemahaman, serta gambaran dirinya sendiri, baik sisi positif maupun sisi negatif dalam dirinya. Ciri-ciri orang dengan konsep diri yang positif adalah tidak sombong, menerima kekurangan dirinya tanpa merasa rendah diri, percaya diri, tidak membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, mengetahui kemampuan dan mampu mengembangkannya dengan baik, toleran, berani, bertanggung jawab, mudah beradaptasi, tidak mudah putus asa, dan sikap-sikap positif lainnya.



Itulah lima tanggung jawab kita terhadap diri sendiri. Tanggung jawab tersebut harus kita miliki dan juga kita kembangkan agar hidup kita lebih baik lagi dari hari kemarin.

Sekian and God Bless you guys.

:)

Renungkan Sejenak! 12 Nilai-nilai Kristiani yang Harus Kamu Miliki

  


Orang Kristen seharusnya tak hanya sekedar Kristen. Yesus berkata bahwa jika ingin mengikut Dia, kita harus memikul salib, menanggalkan manusia lama kita, dan mengenakan manusia baru. Orang percaya harus melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Tentu ini tidak mudah, Tuhan Yesus itu Mesias sedangkan kita hanya manusia biasa. Tapi tenang saja, kita tidak diminta untuk menjadi persis seperti Kristus, kita hanya diminta untuk hari demi hari diperbaharui agar mampu berkembang dan menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus berarti kita harus menyatakan kuasa Allah dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam perkataan atau pemikiran kita.

Berikut 12 nilai-nilai Kristiani yang harus kita miliki dalam kehidupan sehari-hari!

1. Tujuan hidup yang baik dan benar

 Kita diciptakan oleh Allah untuk suatu tujuan. Allah tidak pernah menciptakan sampah, kamu diciptakan untuk memiliki nilai guna bagi orang lain dan lingkungan.

Tujuan hidup kita seharusnya "baik" dan "benar." Orang diluar Kristen juga banyak yang memiliki tujuan hidup, akan tetapi, apakah tujuan hidup mereka itu sudah sesuai dengan kehendak Allah?

Baik, dimaksudkan, bahwa apapun tujuan kita, kita harus menciptakan dan menjaga harmonisasi bukannya kesenjangan dalam kehidupan kita dan sesama kita manusia. Saat kamu sudah menjadi orang yang terpandang, kamu harus tetap menjaga hubungan baikmu dengan keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, guru, dan orang-orang lainnya, jangan menjadi arogan, kacang yang lupa kulitnya, atau bahkan menjadi pemicuh perselisihan! Tidak hanya keharmonisan kehidupan manusia, kehidupan alam semesta, lingkungan, dan dunia pun harus kita ciptakan dan lindungi. Bacalah kejadian 1 untuk melihat contoh kehidupan yang baik dan harmonis itu.

Benar, dimaksudkan, bahwa apapun yang menjadi tujuan kita, harus sesuai dengan kehendak, kebenaran, dan rencana Allah. Yohanes 3:20-21 berkata demikian, "Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatan jahatnya itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

2. Kebebasan yang bertanggung jawab

Salah satu hak istimewa kita adalah kebebasan. Kebebasan tersebut berupa kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk menentukan segala sesuatu, dan kebebasan untuk mengambil sikap atau tindakan.

Pada akhirnya kebebasan kita akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Oleh karena itu, kebebasan kita harus dalam kebenaran dan kehendak Allah. Jika tidak, kita akan berada dalam ketidakbebasan oleh hukuman Allah atas dosa-dosa kita, kita tidak bebas menjalani kehidupan yang penuh sukacita, sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a).

3. Makhluk sosial yang baik

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkan orang lain. Hawa diciptakan mendampingi Adam karena Allah melihat bahwa tidak baik jika manusia dijadikan seorang diri saja.

Dalam kebersamaan kita dengan orang-orang sekeliling kita, tentu terdapat banyak perbedaan sehingga kita saling bergantung satu sama lain. Inilah yang sering menjadi permasalahan dalam suatu persekutuan yaitu perbedaan. Kita terkadang memaksa orang lain untuk menjadi seperti kita dan tidak menghargai keunikan orang lain. Kita memang diberi kebebasan untuk mengkritik orang lain, tetapi kebebasan itu harus tetap berada dalam batas-batasnya, jangan sampai kita malah mendikte orang lain, bahkan melanggar wilayah kebebasan orang lain sebagai individu.

4. Berpikir positif

 Kalau kita mau berpikir positif, maka kita memiliki peluang untuk membuang hal yang tidak baik sehingga bisa mencapai tujuan yang baik. Hal yang bisa dilakukan untuk membangun pemikiran yang positif adalah sebagai berikut:

-Berpikir tenang, tidak mudah terpancing emosi,
-Membuang pikiran buruk yang belum atau pernah terjadi, 
-Mencari sisi-sisi yang baik, melihat segala sesuatu dari sisi yang menyenangkan,
-Memperbaiki sisi-sisi yang buruk,
-Memandang kesulitan sebagai tantangan dan peluang untuk maju.

5. Hidup dalam kesatuan rohani dan jasmani (Kesejatian)

Kesatuan roh dan badan adalah kesejatian manusia. Apa yang dikatakan dan dilakukan manusia harus selaras dengan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Hal ini bertujuan supaya kita memiliki kekuatan identitas dan daya hidup untuk menghadapi berbagai persoalan. Kenyataannya, manusia sulit melakukannya karena kita semua lebih suka dengan suasana basa-basi, kemunafikan, dan kebohongan.

Kesejatian kita harus menampilkan hal-hal positif dan menyadari hal-hal negatif yang harus diperbaiki. Kesejatian tidak menempatkan diri sendiri sebagai yang paling baik dari orang lain. Kesejatian positif menghargai kesejatian orang lain. Kesejatian adalah keselarasan, bukan suasana menang atau kalah.

6. Memiliki kewajiban dan pengabdian kepada Allah

Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan, apabila tidak, akan dikenakan sanksi. Menjalankan kewajiban adalah melakukan segala sesuatu karena aturan dan tuntutan. Sebagai orang percaya, sudahkah kamu mengetahui apa yang menjadi kewajiban kita?

Pengabdian adalah melakukan sesuatu bukan karena tuntutan, melainkan kesadaran diri sendiri. Mengabdi kepada Allah berarti kita menjadi pengikut-Nya dan melakukan kehendak-Nya, bukan karena Dia yang menuntut atau memaksa kita, melainkan karena kita menyadari bahwa kita harus melakukannya untuk membalas kasih-Nya yang begitu besar.

7. Percaya diri

Rasa percaya diri memampukan manusia agar tidak mudah diombang-ambingkan keadaan. Kita dapat memperoleh kepercayaan diri melalui kemampuan melihat kenyataan diri sendiri, menerima kenyataan diri, dan mencintai diri sendiri.

8. Selalu bersyukur dan bersukacita

Jika kamu sedang berada dalam situasi yang benar-benar kacau dan rasanya tidak mungkin untuk bisa bersyukur dan bersukacita, maka tetaplah bersyukur dan bersukacita sebab Tuhan kita sangat baik, Ia menciptakan bumi dan segala isinya dengan baik, Tuhan Yesus telah mati untuk keselamatan kita, Ia berjanji untuk tetap beserta kita, Ia akan selalu menolong kita dalam keadaan apapun, dan memberikan kita kehidupan yang kekal di surga.

9. Jujur, dapat dipercaya, selalu memenuhi janji

Kata jujur dipakai dalam Alkitab sebanyak 27 kali dalam bentuk kata kerja dan 119 kali dalam bentuk kata sifat. Hal ini menunjukkan bahwa kata itu sangat bernilai bagi orang-orang percaya. Orang yang jujur adalah orang yang berjalan lurus sebagaimana seharusnya sesuai dengan firman Tuhan. Ia bukan pembual, bukan penipu, dan ia adalah orang yang dapat dipercaya.

10. Tidak mudah putus asa

Tidak mudah putus asa adalah sikap dan tindakan yang mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Sikap ini memampukan seseorang dapat menekan sekecil mungkin kemungkinan mengalami kegagalan, serta dapat menghadapi berbagai masalah.

11. Berpikir kreatif dan berimajinasi konstruktif

Selalu berusaha menciptakan hal-hal yang baru, yang positif, dan yang bermanfaat membangun sesuatu yang baru.

12. Mengakui kesalahan, mengucapkan terima kasih, menciptakan perdamaian

Orang percaya selalu rindu untuk menciptakan perdamaian dengan sesamanya. Oleh sebab itu, orang Kristen harus selalu rela untuk mengakui kesalahan dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain. Kedamaian adalah suatu keadaan dimana kehendak Allah dapat terlaksana dengan baik.


12 nilai-nilai tersebut harus semaksimal mungkin kita miliki dan lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari demi masa depan yang lebih baik. Tentu tidak mudah untuk melakukannya, tetapi Anda harus memulainya hari ini juga. 

Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati!

:)

Hidup adalah Rangkaian Ujian dan Pencobaan



Pencobaan-pencobaanku telah menjadi guruku dalam soal Ketuhanan. -Martin Luther

Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam Alkitab. Banyak tokoh Alkitab yang diuji imannya oleh Allah melalui berbagai hal, misalnya, Abraham yang diuji lewat perintah menyembelih anak kandungnya, Yakub yang diuji dengan mendapat tambahan waktu untuk memperistri Rahel, Adam dan Hawa diuji di Taman Eden, serta tokoh-tokoh lainnya seperti Raja Hizkia, Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Allah menguji kita dengan tujuan mengembangkan karakter kita

Setiap kali kita diuji, Allah selalu memperhatikan kita, Ia selalu mengamati bagaimana respon kita terhadap masalah hidup kita, orang-orang disekeliling kita, penyakit kita, dan bahkan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh seperti reaksi kita terhadap kamar yang dibuat berantakan oleh si kecil, alat-alat make up yang di gunakan sebagai mainan mereka, dan dokumen-dokumen penting yang dicoret-coret oleh mereka. Ujian-ujian ini bertujuan untuk melatih kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetian, kelemahlembutan, dan penguasaan diri dari kita.

Saat Anda diuji, Anda diperhadapkan dengan dua pilihan yaitu berbuat baik atau berbuat dosa. Ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, anaknya, ia bisa saja mengingkari perintah itu dengan alasan kemanusiaan, tetapi ia memilih untuk menjadi hamba yang penurut tanpa banyak tanya dan banyak komentar. Setiap kali kita mangkir dari kesempatan berbuat dosa, kita sedang bertumbuh mendekati karakter Kristus.

Pencobaan adalah kartu AS Iblis

Pencobaan adalah senjata utama Iblis untuk menjatuhkan orang percaya. Disekeliling kita pasti banyak sekali ditemui orang-orang percaya yang menyimpang dari perintah Tuhan setelah mengalami pencobaan-pencobaan dalam hidup mereka (Tuhan mengharapkan Anda untuk membawa mereka kembali). Tetapi tenang saja, Allah juga memanfaatkan pencobaan tersebut untuk mengembangkan Anda. Ayub dicobai oleh iblis agar ia mengkhianati Tuhan Allah, namun Allah memanfaatkan pencobaan tersebut untuk menguji kesalehan dari seorang Ayub.

Pencobaan kita berawal dari hati. Saat iblis mengenali keinginan Anda, ia akan memberikan suatu pemikiran untuk mendapatkan keiinginan tersebut dengan cara yang salah. Usulan iblis terdengar sangat menarik dan logis sehingga banyak orang yang terbuai. Ketika Anda sudah mulai mempertimbangkan usulan iblis, iblis kemudian akan menimbulkan keraguan dalam hati Anda mengenai isi kata firman Tuhan, Anda mungkin akan berkata "Ah, mungkin sah-sah saja karena Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci," atau "Bukankah Allah ingin agar saya bahagia." Waspadalah! Jangan biarkan keraguan membuatmu berpaling dari Tuhan Yesus.

Iblis disebut sebagai "bapa segala dusta." Segala sesuatu yang dikatakan olehnya tidak benar atau hanya separuh benar. Iblis menawarkan dustanya untuk menggantikan firman Tuhan. Ia berkata kepada Hawa "Kamu sekali-kali tidak akan mati ...," padahal Allah telah mengatakan bahwa mereka akan mati apabila memakan buah penetahuan yang baik dan yang jahat. Ketika kita telah termakan bujuk rayu iblis, akhirnya kita akan menjadi tidak taat lagi kepada Allah dan mendukakan hati-Nya.

Mengalahkan Pencobaan

Alkitab berkata: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa kita diajak untuk senantiasa bertahan dalam pencobaan kita. Allah tidak akan mengizinkan pencobaan kita melebihi kemampuan kita. Saat beban kita sudah terlalu berat untuk kita pikul, Ia akan menguatkan pundak kita agar beban kita terasa ringan.

Berikut adalah cara untuk mengalahkan pencobaan:
1. Mintalah pertolongan Allah. Berserulah kepada Tuhan, Alkitab menjamin seruan kita akan didengar oleh Tuhan Yesus. Ia tidak akan marah atau bosan apabila kita berkali-kali minta tolong kepada-Nya karena kasih Allah abadi, dan kesabaran-Nya kekal selamanya.
2. Mengalihkan pikiran. Setiap kali kita mencoba untuk melawan suatu pikiran, kita justru makin mendorongnya ke ingatan kita. Misalnya, Anda sedang memiliki masalah dengan seorang teman Anda. Anda pernah memergoki dia bercerita buruk tentang Anda. Ketika Anda berusaha untuk lupa bahwa dia sudah bercerita buruk tentang Anda dengan cara melawan pikiran Anda, itu hal yang sia-sia karena Anda justru semakin ingat. Hal yang harus Anda lakukan adalah membiarkan pemikiran tersebut dan mengalihkannya pada sesuatu hal yang lain, mungkin Anda harus lebih fokus dengan pekerjaan Anda, keluarga Anda, target Anda, atau mencari kesibukan-kesibukan yang positif.
3. Ungkapkan pergumulan pada seseorang yang mendukung. Bisa saja pasangan Anda, sahabat, Anda, orang tua Anda, atau siapa pun yang Anda percayai. Tetapi perlu diingat bahwa Anda tidak harus menyiarkannya ke seluruh dunia, cukup satu orang saja yang mengerti pergumulan Anda.

Selalu ada jalan keluar

1 Korintus 10:13b : "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."


Cukup sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

:)

4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Tuhan Terasa Jauh


"Persahabatan seringkali diuji melalui perpisahan dan diam" -Rick Warren 


Sebuah pepatah mengatakan bahwa hidup berjalan seperti roda yang berputar, kita tidak akan terus berada ditempat yang sama selama hidup. Pepatah tersebut berlaku untuk hubungan kita dengan Allah. Kita tidak akan selalu berada di posisi yang sama sepanjang waktu, kadang kita merasa begitu dekat dengan-Nya dan kadang pula terasa jauh.

Ada masa dimana kita telah melakukan segala sesuatu untuk melayani Tuhan, kita merenungkan firman-Nya siang dan malam, kita melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya, tetapi nampaknya tidak berdampak apa-apa bagi kehidupan kita bahkan yang datang justru musibah demi musibah yang membuat kita merasa Allah "tega" membiarkan kita jatuh dalam pencobaan.

Dulu ada seorang ibu yang hidup dikampung pedalaman. Ia melayani Tuhan sebagai majelis dan guru sekolah minggu. Tantangan terberat dalam pelayanan didaerah pedalaman adalah masih sangat kurangnya pelayan dalam suatu gereja. Bahkan, ibu tersebut mengaku ada suatu waktu ia melayani dari pagi hingga jam 5 sore, mulai dari mengajar sekolah minggu, menjadi pelayan firman di ibadah gereja, ibadah kebaktian rumah tangga, kebaktian Persekutuan Wanita, hingga Persekutuan Pemuda/i. Saya pribadi sangat salut dengan pengabdian ibu itu ditambah lagi ia hanya lulusan SD. Meskipun ibu tersebut sudah mengorbankan banyak waktunya untuk Allah, ternyata Allah masih mengizinkan pencobaan yang begitu besar dalam hidupnya, ia pernah keguguran, dua anaknya meninggal, dan anak keduanya sakit-sakitan. Kendati dalam keadaan tidak menyenangkan, ibu tersebut tidak pernah lelah melayani Tuhan sampai pada masa tuanya. 

Betapapun akrabnya kita dengan teman, pasangan, dan orang tua, ada masa-masa kita jauh dalam artian tidak saling berkomunikasi dan seakan mereka mengabaikan kita. Hukum itu juga berlaku untuk hubungan kita dengan Allah. "Saat Jauh" kita dengan Allah adalah ketika penyembahan kita menjadi sulit, perasaan rohani kita lenyap, kita ditimpah berbagai macam pencobaan, dan kita meragukan kebenaran dan janji-janjiNya.

Bisa saja yang membuat Allah terasa jauh adalah dosa kita dan Allah sedang menghukum kita atas dosa tersebut, tetapi bukankah Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang? karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, maka kemungkinan tadi persentasenya tipis. Seringkali kita merasa Allah meninggalkan kita tidak berkaitan dengan dosa. Itu adalah ujian terhadap iman kita. Ketika pasangan kita lagi ngambek, dia pasti (seakan-akan) tidak menghiraukan kita. SMS kita tidak dibalas, WA kita tidak dibalas syukur-syukur kalau di-read, telepon kita tidak diangkat, tetapi pada saat-saat inilah cinta kita padanya diuji. Begitu pun saat Allah mendiamkan kita, sebetulnya kasih, kepercayaan dan ketaatan kita sedang diuji, apakah kita masih menyembah-Nya meskipun Ia terasa jauh.



Lalu, sebagai orang percaya, apa yang harus kita lakukan saat berada di keadaan ini? Berikut 4 hal yang bisa dilakukan dikutip dari buku "The Purpose Driven Life" karya Rick Warren.

1. Katakan kepada Allah secara persis apa yang Anda rasakan

Dengan kata lain kita harus jujur bahwa kita merasa Allah seakan-akan jauh. Keluarkan emosi Anda dihadapan-Nya (bukan dihadapan orang lain atau di sosmed) karena Tuhan sanggup untuk menangani kebimbangan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan, dan keraguan Anda.

2. Yakin bahwa sifat Allah tidak berubah

Mungkin Anda tahu lirik lagu ini:
Tuhan Yesus tidak berubah
tidak berubah, tidak berubah
Tuhan Yesus tidak berubah
sampai selama-lamanya\
Lagu tersebut bisa Anda nyanyikan ketika dalam keadaan seakan-akan didiamkan oleh Allah, tanpa peduli dengan keadaan dan perasaan Anda, yakinlah pada karakter Allah yang tidak berubah. Allah yang telah berfirman "Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (ibrani 13:5), masih adalah Allah yang sama yang akan selalu menyertai kehidupan Anda.

3. Percaya bahwa Allah menepati janji-janji-Nya

Dalam keadaan penuh pergumulan, kita harus bersandar pada janji-janji Allah, bukan pada emosi-emosi kita. Jangan terpengaruh dengan kesulitan Anda, sadarilah bahwa keadaan tidak dapat mengubah karakter Allah. Kasih karunia Allah, cinta Allah, pengampunan Allah, semuanya masih dalam kekuatan penuh. Allah tetap memihak kita, sekalipun kita tidak merasakannya. Kita harus tetap percaya bahwa Allah selalu ada untuk kita, bahwa Allah sangat peduli dengan perasaan-perasaan kita. Ingatlah bahwa Allah ingin menjadikan Anda bejana-Nya!

4. Ingat kembali apa yang telah Allah perbuat

Meskipun kita banyak berbuat baik kepada orang lain, sekali kita melakukan yang tidak baik, mereka akan lupa dengan segala kebaikan kita dan mengingat yang jahatnya saja. Jangan heran, itulah kecenderungan manusia dan Anda sendiripun tanpa sadar pernah melakukannya.

Ketika Allah terasa jauh, ketika masalah kian menumpuk, ingatlah akan kebaikan Tuhan bagi Anda. Andai kata Allah tidak pernah melakukan sesuatu dihidup Anda, Allah masih layak menerima pujian Anda selama sisa hidup Anda. Alasan terbesar kita untuk tetap menyembah-Nya adalah karena Ia telah mati untuk kita.

........... :)

Itulah 4 hal yang harus kita lakukan ketika Tuhan terasa jauh. Jangankan Anda dan saya, nabi-nabi dalam Alkitab pernah merasa bahwa Tuhan seakan-akan jauh. Akan tetapi mereka tetap setia dalam masa-masa tersebut dan pada akhirnya mereka memperoleh buah dari kesetiaan itu.

Demikian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati kehidupan kita semua!

:)