Jangan Terlalu Nyaman, Kita Hanyalah Pelancong di Dunia Ini


Pernahkah Anda merasa tidak puas dengan kehidupan kita dibumi ini? Jika Ya, maka perasaan itu wajar karena tempat kita memang bukan disini.

Saat ini saya sedang berada di sebuah kampung yaitu kecamatan Tanduk kalua di daerah kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kebetulan kampung ini bukan kampung halaman saya, melainkan kampung kakak ipar saya. Tempat tinggal saya sebenarnya adalah di kecamatan Burau, kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Saya datang kesini selain untuk liburan, juga karena ada sedikit urusan study yang mengharuskan saya untuk tinggal disini sementara. 

Berada di tempat yang bukan kampung kita tentu membuat kita sedikit merasa asing (karena kita memang bukan penduduk setempat). Walaupun Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bertetangga, namun kebiasaan masyarakat setempat, aksen, dan juga bahasanya sudah memiliki banyak perbedaan, walaupun tidak dipungkiri masih ada kemiripan karena masih satu pulau. Satu bulan lebih berada di kampung ini, saya mulai bisa beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Saya mulai mengerti bahasa daerah sini dan juga mulai memahami aktivitas serta kebiasaan warganya.

Keberadaan kita dibumi sebagai orang percaya sebenarnya mirip dengan pelancong atau wisatawan yang sedang berjalan-jalan di daerah orang lain. Bedanya, kita tidak hanya berjalan-jalan untuk melihat-lihat saja, melainkan kita mengemban sebuah "penugasan" dari Allah. Seperti saya yang berada di Mamasa ini karena urusan study saya, begitu pun kita umat Allah yang berada di dunia ini untuk urusan surgawi. Ya, "Urusan Surgawi". Wow! Begitu spesialnya kita sehingga diberikan mandat begitu istimewa dari Allah.

Lalu, apa penugasan Allah itu untuk kita?

1. Memelihara Bumi

Beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali bencana yang menimpa manusia. Bencana itu meliputi bencana alam: tsunami, gunung meletus, dan gempa bumi yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, juga bencana yang disebabkan oleh manusia: tanah longsor dan banjir.  

Tanah longsor dan banjir disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, tetapi yang kena dampaknya adalah manusia lain dan hewan. Selain itu, fenomena meningkatnya pemanasan global, kelangkahan beberapa jenis tumbuhan dan hewan, serta penumpukan sampah juga sebagian besar bahkan hampir sepenuhnya karena ulah manusia. Hal tersebut bertentangan dengan perintah Allah yang telah memberikan mandat kepada nenek moyang kita untuk memelihara bumi. Kita telah gagal sebagai keturunan Adam dan Hawa untuk melaksanakan perintah tersebut.

Kalau bukan kita yang memelihara lingkungan kita, siapa lagi? Alien?

Mari kita bersama-sama menjaga bumi ini. Anda tidak harus menjadi ultraman atau superhero, cukuplah dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi menggunakan produk yang menyisakan limbah sulit terurai, menjaga satwa dan fauna kita dari kepunahan, mengurangi bahkan menghentikan menggunakan peralatan/barang/alat transportasi yang tidak ramah lingkungan, melindungi hutan kita, dan sebagainya sesuai dengan kesadaran kita.

2. Melayani Allah

Kapanpun kita melayani orang lain, kita melayani Allah. Dalam melakukan pelayanan terhadap orang lain, Anda harus selalu ingat bahwa Anda melakukannya untuk Allah, ini bisa menguatkan Anda dalam segala situasi seperti para nabi dan rasul dalam kitab suci. Misalnya Anda adalah seorang guru yang diperhadapkan dengan siswa badung. Kalau fokus Anda pada diri sendiri, Anda pasti akan mundur, "Ahh, saya tidak dihargai oleh siswa ini, kenapa saya harus tetap mengajarnya?". Akan tetapi, jika Anda fokus bahwa Anda sedang melayani Allah melalui pekerjaan Anda, Anda pasti akan tetap mengajar dan mengarahkan anak itu agar menjadi anak baik dan lebih dekat dengan Tuhan.


Melayani Allah tak melulu harus jadi pendeta, pastor atau biarawati. Semua orang Kristen dipanggil untuk melayani. Kan tidak mungkin kalau semua orang kristen itu jadi pendeta? lah trus yang jadi jemaat siapa?

Anda bisa melayani Allah dengan talenta dan pekerjaan Anda asalkan tetap melakukannya dengan mata tertuju kepada Yesus.

3. Mengembangkan Diri Kita

Dalam Point ketiga ini berbicara mengenai dua pengembangan diri, yang pertama dari segi iman dan yang kedua ialah bakat.

(1) Iman kita itu ibarat tanaman yang setiap hari harus diberi air kehidupan yaitu  renungan firman agar tetap tumbuh. Kita juga harus merawat tanaman iman kita ini dengan baik, jangan sampai hama-hama keraguan menggerogoti batangnya sehingga akan mati secara perlahan. Tanaman iman kita harus dipupuk secara berkala dan rutin dengan pedalaman-pedalaman Alkitab dan juga pengalaman-pengalaman rohani agar tumbuh subur hingga saatnya nanti hasil tanaman iman kita dapat dipanen dengan penuh sukacita.

(2) Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 membuktikan bahwa Allah ingin kita mengembangkan yang Dia berikan kepada kita, tidak boleh menyembunyikannya. Semua kemampuan dan bakat kita berasal dari Allah. Bahkan kemampuan membuat dan menyebarkan berita hoaks pun merupakan kemampuan dari Allah tapi disalahgunakan.

Salah satu tanggung jawab Anda dalam gereja sebagai satu-kesatuan tubuh Kristus ialah menemukan dan mengembangkan bakat Anda. Masalah yang sering muncul ialah ada sebagian orang yang tidak tahu apa sebenarnya bakat mereka. Saya mempunyai teman sewaktu SMA yang "serba biasa-biasa saja" dalam segala hal. Dari segi akademik dan non akademik disekolah ia tidak menonjol, ia bahkan pernah berpikir bahwa dia tidak memiliki bakat., padahal ia hanya tidak sadar bahwa ia berbakat mengamati perilaku orang yang tidak disadari oleh orang lain, jago melucu dengan lawakan kacang tapi bikin ngakak, dan juga easy going dengan siapa saja. Jika Anda merasa belum menemukan bakat Anda maka teruslah mencoba berbagai hal. Jika Anda sudah menemukannya, kembangkan itu!

................. :)

Itulah tiga penugasan Allah untuk kita yang apabila kita lebih mengkaji kitab suci lagi, kita masih akan menemukan penugasan-penugasan Allah yang lain di dunia ini. 

Saat bertugas didunia, kita sebaiknnya merasa menjadi orang asing. Kebiasaan orang dunia masih berdasarkan keinginan daging mereka, perbuatan dan cara bertutur mereka amoral dan mengingkari larangan Tuhan. Kita harus memiliki keberanian untuk mempertahankan jati diri kita yang sebenarnya, tanpa takut akan ditolak oleh dunia. Biarlah dunia menolak kita asalkan Allah tetap menerima kita.

Dengan menyadari bahwa kita hanya sedang menjalani penugasan dari Allah dan tempat kita bukan disini, maka kita akan menjauhi segala sesuatu yang akan membuat kita gagal untuk menyelesaikan tugas tersebut. Ingat! kita berasal dari Allah dan tidak boleh menjadi serupa dengan Allah.

Mari bersama-sama sebagai pengikut Kristus kita menjalankan tanggung jawab kita agar pada akhirnya Allah akan tersenyum kepada kita.

Saya rasa cukup sekian. Terima kasih telah membaca dan Tuhan Yesus memberkati kita semua.

:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar