Anak-anak adalah pemberian Allah, sesungguhnya, mereka itu anugerah- Mazmur 127:3 (BIMK)
Keluarga adalah tempat seorang anak pertama kali mendapat kasih sayang dan juga pendidikan. Perilaku seorang anak sebagian besar ditentukan oleh perlakuan dan perkataan yang ia dapatkan dari orang tuanya. Kadangkala, anak menyimpan pedih atas perkataan yang mereka tidak inginkan diucapkan oleh orang tua, perkataan itu sedikit demi sedikit memengaruhi tingkah laku dan kepribadiannya.
Sebagai orang tua (calon orang tua) yang baik, kita harus menyadari bahwa peran yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sangat besar dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Anak adalah kepercayaan dari Tuhan untuk dirawat dan diarahkan guna mempermuliakan nama-Nya. Berikut 10 kalimat positif yang butuh di dengarkan anak dari orang tuanya.
1. "Papa dan mama sayang sama kamu"
Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka disayangi. Semua orang tua pasti menyayangi anaknya, akan tetapi, sudahkah mereka mengatakannya? Bapa kita di surga langsung mengatakan bahwa Ia sangat menyayangi kita; "Karena begitu besar kasih ALLAH..." (Yohanes 3:16) dan juga menunjukkan rasa sayang-Nya itu dalam pengorbanan-Nya di kayu salib. Anak-anak kita juga sangat membutuhkan untuk tahu bahwa mereka disayangi lewat perkataan dan tindakkan kita, mereka butuh setiap hari untuk mendengar dan melihat kasih sayang itu.
Ada seorang anak yang dibuang oleh keluarganya sendiri karena melakukan sebuah kesalahan yang merusak reputasi keluarga. Anak tersebut bertumbuh dewasa tanpa dukungan keluarga. Bahkan, sampai tua dan meninggal pun, ia tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya.
Orang tua Kristen tidak perlu melakukan hal yang di atas. Memaafkan adalah salah satu bentuk kasih. Kasih itu dinyatakan kepada orang lain dan juga keluarga, terlebih Tuhan. Anak-anak yang melakukan kesalahan, tidak perlu dibuang, dihakimi, atau diberi efek jera yang berlebihan, mereka hanya perlu dimaafkan lalu diberi kesempatan untuk tidak mengulanginya lagi dan menjadi anak yang lebih baik.
Siapa yang tidak senang saat tahu bahwa mereka berharga? Setiap orang berharga. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berharga dan Tuhan sangat memperhatikan mereka. "Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Matius 10:30-31). Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka berarti untuk kita, dan juga untuk Bapa di surga.
Dulu saya pernah sekelas dengan anak yang terlihat bodoh dalam segala bidang mata pelajaran, padahal kelas itu kelas unggulan. Saat saya sekelompok dengan dia, saya sadar bahwa dia sebenarnya cukup pandai dan lumayan cepat tangkap, tetapi entah kenapa nilainya sering dibawah lima puluh. Usut punya usut, dia ternyata sering direndahkan oleh orang tuanya. Orang tuanya mencap dirinya bodoh sehingga dia pun berpikir bahwa dirinya bodoh dan tidak bisa dalam segala bidang. Orang tuanya lebih suka mengatakan "kamu ini bodoh sekali, coba lihat si A, dia selalu dapat ranking" ketimbang "kalau si A bisa, kamu juga pasti bisa."
Anak-anak yang pemberani adalah anak-anak yang tidak takut akan ancaman-ancaman yang akan datang dalam kehidupan mereka. Anak-anak butuh untuk diberi tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk mereka dan menuntun mereka senantiasa (Yesaya 58:11). Jangan sampai anak-anak kita menjadi penakut dan pada akhirnya menjadi pengecut karena mereka tidak tahu bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan selalu bersama-sama dengan mereka dan memberkati apa yang mereka sedang atau akan lakukan.
Motivasi kebanyakan orang untuk sukses ialah supaya orang tua mereka bahagia. Sayangnya, untuk mencapai kesuksesan itu, mereka harus merasakan berbagai kegagalan. Kegagalan itu tentu membuat mereka sedih karena mereka belum bisa membahagiakan orang tua. Pada fase kegagalan inilah orang tua dituntut mengapresiasi usaha anaknya dengan mengatakan "Mama dan papa udah senang kok karena kamu sudah mau berusaha, walaupun kamu belum berhasil."
Andai semua anak mengerti kalimat tersebut, pastilah kasus bullying di kalangan pelajar tidak setinggi sekarang. Anak-anak perlu untuk diberi tahu "segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12).
Saya memiliki seorang sepupu yang agaknya dikucilkan dalam keluarganya. Ia selalu dibandingkan dengan adik-adiknya yang pintar. Ibunya pernah berkata kepada saya "Kakakmu si (sebut saja) Fani itu bodoh, suka melawan, malas, tidak seperti adiknya (sebut saja) Epi, dia pintar, penurut dan rajin." Padahal, setelah saya perhatikan, si Fani ini rajin dan penurut, bahkan dia sering mengeluh karena hanya dia sendirilah yang terlalu sering disuruh-suruh.
Orang tua yang baik harus menerima anaknya apa adanya, bukannya malah membanding-bandingkan dengan saudanya. Boleh saja membandingkan sesekali sebagai motivasi anak, tetapi jangan terlalu sering. Anak-anak perlu mendengar orang tuanya mengatakan bahwa mereka menerima mereka walaupun mereka bodoh, memiliki keterbelakangan fisik dan mental, atau belum sehebat saudara dan teman-temannya.
Tuhan ingin agar umat-Nya saling mengampuni satu sama lain, dan hal ini harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tidak ada pengajaran yang lebih baik selain menjadi contoh itu sendiri.
Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.
:)
2. "Saya memaafkan kesalahanmu, tapi jangan mengulanginya lagi"
Ada seorang anak yang dibuang oleh keluarganya sendiri karena melakukan sebuah kesalahan yang merusak reputasi keluarga. Anak tersebut bertumbuh dewasa tanpa dukungan keluarga. Bahkan, sampai tua dan meninggal pun, ia tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya.
Orang tua Kristen tidak perlu melakukan hal yang di atas. Memaafkan adalah salah satu bentuk kasih. Kasih itu dinyatakan kepada orang lain dan juga keluarga, terlebih Tuhan. Anak-anak yang melakukan kesalahan, tidak perlu dibuang, dihakimi, atau diberi efek jera yang berlebihan, mereka hanya perlu dimaafkan lalu diberi kesempatan untuk tidak mengulanginya lagi dan menjadi anak yang lebih baik.
3. "Kamu sudah mencoba yang terbaik"
Jaman SMA, saya pernah mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten. Berambisi untuk lolos ke provinsi, saya belajar sangat intensif sampai-sampai pelajaran di kelas banyak yang tertinggal. Saat pengumuman, ternyata nama saya berada di urutan keempat, yang artinya saya gagal untuk ke provinsi karena yang diikutkan hanyalah urutan yang pertama sampai ketiga. Hal itu membuat saya down. Saya mengutuki diri saya bodoh. Akan tetapi perkataan ibu saya berhasil menyemangati saya kembali: "Tidak apa-apa, kamu sudah mencoba yang terbaik."4. "Kamu sangat berharga"
Siapa yang tidak senang saat tahu bahwa mereka berharga? Setiap orang berharga. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berharga dan Tuhan sangat memperhatikan mereka. "Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Matius 10:30-31). Setiap anak butuh untuk tahu bahwa mereka berarti untuk kita, dan juga untuk Bapa di surga.
5. "Kamu pasti bisa"
Dulu saya pernah sekelas dengan anak yang terlihat bodoh dalam segala bidang mata pelajaran, padahal kelas itu kelas unggulan. Saat saya sekelompok dengan dia, saya sadar bahwa dia sebenarnya cukup pandai dan lumayan cepat tangkap, tetapi entah kenapa nilainya sering dibawah lima puluh. Usut punya usut, dia ternyata sering direndahkan oleh orang tuanya. Orang tuanya mencap dirinya bodoh sehingga dia pun berpikir bahwa dirinya bodoh dan tidak bisa dalam segala bidang. Orang tuanya lebih suka mengatakan "kamu ini bodoh sekali, coba lihat si A, dia selalu dapat ranking" ketimbang "kalau si A bisa, kamu juga pasti bisa."
6. "Jangan takut! Tuhan selalu menyertaimu"
Anak-anak yang pemberani adalah anak-anak yang tidak takut akan ancaman-ancaman yang akan datang dalam kehidupan mereka. Anak-anak butuh untuk diberi tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk mereka dan menuntun mereka senantiasa (Yesaya 58:11). Jangan sampai anak-anak kita menjadi penakut dan pada akhirnya menjadi pengecut karena mereka tidak tahu bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan selalu bersama-sama dengan mereka dan memberkati apa yang mereka sedang atau akan lakukan.
7. "Mama dan papa senang kok, walaupun kamu belum berhasil"
Motivasi kebanyakan orang untuk sukses ialah supaya orang tua mereka bahagia. Sayangnya, untuk mencapai kesuksesan itu, mereka harus merasakan berbagai kegagalan. Kegagalan itu tentu membuat mereka sedih karena mereka belum bisa membahagiakan orang tua. Pada fase kegagalan inilah orang tua dituntut mengapresiasi usaha anaknya dengan mengatakan "Mama dan papa udah senang kok karena kamu sudah mau berusaha, walaupun kamu belum berhasil."
8. "Kalau kamu baik, orang juga akan baik sama kamu"
Andai semua anak mengerti kalimat tersebut, pastilah kasus bullying di kalangan pelajar tidak setinggi sekarang. Anak-anak perlu untuk diberi tahu "segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12).
9. "Kami menerima kamu apa adanya"
Saya memiliki seorang sepupu yang agaknya dikucilkan dalam keluarganya. Ia selalu dibandingkan dengan adik-adiknya yang pintar. Ibunya pernah berkata kepada saya "Kakakmu si (sebut saja) Fani itu bodoh, suka melawan, malas, tidak seperti adiknya (sebut saja) Epi, dia pintar, penurut dan rajin." Padahal, setelah saya perhatikan, si Fani ini rajin dan penurut, bahkan dia sering mengeluh karena hanya dia sendirilah yang terlalu sering disuruh-suruh.
Orang tua yang baik harus menerima anaknya apa adanya, bukannya malah membanding-bandingkan dengan saudanya. Boleh saja membandingkan sesekali sebagai motivasi anak, tetapi jangan terlalu sering. Anak-anak perlu mendengar orang tuanya mengatakan bahwa mereka menerima mereka walaupun mereka bodoh, memiliki keterbelakangan fisik dan mental, atau belum sehebat saudara dan teman-temannya.
10. "Mama/papa salah, maafin yah"
Orang tua harus berbesar hati mengakui kesalahan mereka kepada anak-anak, tidak hanya agar anak-anak tahu bahwa orang tua juga manusia biasa, tetapi juga agar anak-anak jadi punya acuan untuk melakukan yang lebih baik dan bukan kesalahan seperti yang orang tuanya perbuat.Tuhan ingin agar umat-Nya saling mengampuni satu sama lain, dan hal ini harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tidak ada pengajaran yang lebih baik selain menjadi contoh itu sendiri.
Kesimpulannya ...
Melatih anak-anak untuk mengenal dan mengikuti Tuhan adalah tanggung jawab orang tua. Hal tersebut dilakukan sebagai respons untuk menghargai pemberian Tuhan. Ketika seorang anak tahu bahwa ia dicintai, berharga, selalu didukung oleh orang tua, diterima apa adanya, dan diajar untuk memahami pengampunan, maka ia akan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan yang menciptakannya.Sekian dan kiranya Tuhan Yesus memberkati.
:)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar